jika boleh diibaratkan , pelangi itu seperti kekasih . Begitu setia ketika hujan telah berhenti dan pelangi itu pun hadir ...
tetapi dia terlalu cepat berlalu sehingga aku tak tahu kapan dia kembali lagi ...
tetapi matahari itu seperti sahabat , Begitu setia kepada bumi untuk terus menyinarinya tanpa kenal lelah , dari pagi samapai sore , hanya malamlah yang menjeda mereka ....
dan matahari itu ibarat air zam-zam yang selalu menyediakan berjuta manfaat bagi manusia ...
#teruntuk sahabat-sahabatku , Love you coZ Allah :)
Rabu, 02 November 2011
kenapa Hanya "Jazaakallah" (جَزَاكَ الله) Saja?
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memilih bahasa Arab sebagai bahasa kitabnya yang mulia yaitu al-Qur’an dan menjadikannya sebagai bahasa persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Dan Allah telah menjadikan orang-orang yang mengetahui bahasa Arab sebagai orang mengetahui banyak hal tentang ilmu syar’i karena sumber ilmu syar’i adalah bahasa Arab dan definisi istilah-istilah dalam disiplin ilmu syar’i tersebut banyak dijabarkan dalam bahasa tersebut.
Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i yang tetap mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun padahal beliau adalah ulama fiqih yang merupakan keturunan Arab asli yaitu dari kabilah Quraisy. Beliau pun berkata,
“Tidaklah kuinginkan dalam mempelajari (bahasa Arab) ini kecuali agar memudahkan dalam mempelajari fiqh.”[1]
Beliau pula berkata ketika menerangkan keutamaan orang-orang yang mempelajari bahasa Arab,
“Para ahli bahasa Arab adalah jinnya manusia karena mereka mampu mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.”[2]
***
Diantara hal yang menandakan bahwa kaum muslimin di tanah air bersemangat dalam hal pemenuhan kebutuhan berbahasa Arab adalah banyak dan semaraknya penggunaan istilah-istilah berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-sehari.
Tak hanya itu, do’a dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerapkali diucapkan, terutama do’a ketika mendapat kebaikan dari orang lain yaitu “Jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا) yang bermakna “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”.
Mereka berusaha melaksanakan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bincangkan dalam sebuah hadits,
من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
"Siapa-siapa yang diberikan kebaikan lalu dia berucap 'Jazaakallahu khairan' kepada si pemberi maka sungguh itu telah cukup sebagai pujian (dan terima kasih)."[3]
Hanya saja, pada tema ini, tak sedikit kaum mislimin yang mengucapkan “jazaakallah” (جَزَاكَ الله) saja, bukan dengan lengkap “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا).
Dan ini, menurut kami, merupakan sebuah kekeliruan. Ada beberapa argumen yang kami bawakan dalam mengklaim bahwa itu sebuah kekeliruan.
Argumen Pertama
Kata kerja “jazaa” (جَزَا) yang bermakna “membalas”, dalam kaidah bahasa Arab termasuk dalam Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى).
Apa yang dimaksud dengan Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى)?
Dalam kitab Tash-hil fie Ma’rifati Qawa’idi Lughatil at-Tanziil sebutkan bahwa:
الفعل المتعدى هو ما يحتاج إلى مفعول
“Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى) adalah fi’il (kata kerja) yang membutuhkan maf’ul (objek).”[4]
Dalam literatur lain yaitu kitab Mulakhkhash Qawa’idi al-Lughati al-‘Arabiyati disebutkan lebih lengkap tentang definisi ini:
الفعل المتعدى هو الذي لا يكتفي بفاعله ويحتج إلى مفعول به واحد أو أكثر
“Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى) adalah fi’il (kata kerja) yang tak cukup (disebutkan) dengan fa’il (subyek) saja dan fi’il ini membutuhkan sebuah maf’ul bihi (obyek) atau lebih.”[5]
Begitu jelas bahwa jenis kata kerja ini, Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى), tak cukup disebutkan hanya dengan subyek saja namun juga membutuhkan obyek satu atau lebih.
* Contoh kata kerja yang merupakan Fi’il Muta’addi : Fahima” (فهم) = Memahami.
* Contoh kalimat: “Fahima at-talaamiidzu” (فهم التلاميذ) = Siswa memahami.
Memahami apa?
Apa yang dipahami siswa?
Cukupkah dua kata “siswa memahami” dikatakan sebagai kalimat? Dalam bahasa Indonesia pun ini belum cukup. Begitu pula dalam bahasa Arab yang memiliki keteraturan kaidah yang kompleks.
Dalam hal ini dibutuhkanlah maf’ul bihi (obyek) biar perkaranya jelas. Misalkan yang dipahami siswa adalah “ad-darsa” (الدرس)= Pelajaran, maka struktur kalimatnya akan menjadi:
“Fahima at-talaamiidzu ad-darsa” (فهم التلاميذ الدرس)= “Para siswa memahami pelajaran”
Kata “ad-darsa”/pelajaran (الدرس) inilah yang dimaksud dengan maf’ul bihi (obyek) yang harus tertera pada konteks fi’il/kata kerja jenis ini.
Kembali ke obrolan, kata “jazaa” (جَزَا) yang bermakna “membalas”, sebagai Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى) tentu saja/harus membutuhkan objek agar lebih jelas.
Artinya, ketika disebutkan “jazaakallah” (جَزَاكَ الله) saja yang bermakna “semoga Allah membalasmu” maka tidak adanya maf’ul bihi dan ini tentu tidak benar.
Membalas dengan apa?
Dengan apa dibalas?
Inilah kerancuannya. Masih bersifat umum. Bisa membalas dengan kebaikan atau keburukan atau yang lain.
Sesuai dengan konteks hadits di atas maka “khairan” (خيرا)= kebaikan adalah maf’ul bihi (obyek) dan maf’ul bihi ini harus tertera dan tersebutkan oleh lisan kita ketika menyebutnya. Ini yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin.
Jazaakallahu khairan (جزاك الله خيرا)
Argumen Kedua.
Ucapan “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا) yang tertera dalam hadits di atas merupakan do’a dan dzikir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan sehingga pengamalan dan kelengkapan/kesempurnaan lafadznya lebih utama dititikberatkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Do’a dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk do’a dan dzikir paling utama yang seharusnya diamalkan setiap muslim.[6]
Tak hanya itu, pengamalan dan penerapan kelengkapan/kesempurnaan lafadz ini menandakan kualitas ittiba’(peneladanan/pengikutian jejak) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu bertutur:
“Tidak diragukan lagi, do’a dan dzikir adalah termasuk ibadah yang sangat utama. Ibadah itu harus didasari dengan ittiba’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan konsekuen dan konsisten, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula mengada-ada, membuat sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya.”[7]
Ketika pengamalan dan kesempurnaan lafadz do’a dan dzikir, termasuk terkomposisikan dengan niat yang ikhlas, telah terkumpul pada seorang individu maka hasil yang diperoleh juga akan maksimal atau mendekati kesempurnaan.
Kembali kami kutip ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:
“Orang yang melaksanakan do’a dan dzikir yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan merasa aman dan selamat dan akan mendapatkan manfaat serta hasil yang optimal.”[8]
Ketika hanya mengucapkan “jazaakallah” (جَزَاكَ الله)= “semoga Allah membalasmu” saja, bahkan ada yang menulis “jzkllh”dan “jzk”, bukan dengan lengkap “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا), maka adakah kesempurnaaun ittiba’nya? Adakah apik dan indahnya kesempurnaan lafadznya? Adakah kesempurnaan nilai kebaikan yang diperoleh dalam mengikuti sunnah seperti yang ditawarkan hadits di atas?
Tiga buah ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang kami kutip di atas telah menjawab tiga pertanyaan tersebut.
***
Alhasil, ucapkanlah dengan lengkap “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا) agar sesuai dengan kaidah berbahasa, kesempurnaan ittiba’ baik dalam pengamalan dan kesempurnaan lafadznya dan kesempurnaan kebaikan yang akan diperoleh.
Demikian yang kami sampaikan dengan sangat sederhana. Kepada anda sekalian, kami kabarkan bahwa kami menyampaikan ini bukan dalam rangka memposisikan diri sebagai orang yang ahli lagi fasih dalam berbahasa Arab namun dalam rangka membagi-bagi secuil pengetahuan yang kami miliki dan kami pun sedang “tertatih-tatih belajar merangkak untuk bersiap-siap lari sekencang-kencangnya dalam menempuh jarak yang amat jauh.”
Jazaakallahu khairan (جزاك الله خيرا)
***
وفي الختام أرجو أن أكون قد وفقت في هذه الرسالة. وأعوذ بالله من الخطأ والزلل. وأسأله قبول الصالح من العمل. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العلمين. والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين
.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Penyusun: Abdullah Akiera Van As-samawiey
Editor: Johan Saputra Halim
Selesai disusun menjelang adzan dzuhur 23 Ramadhan 1432 H.
Ruang Bidang Dakwah Lantai 2 Masjid Aisyah Radhiyallahu 'anha, Mataram Islamic Centre.
End Notes:
[1] Manaaqib as-Syafi’i, karya Baihaqi II/42.
[2] Ibid, hal 53. Dikutip dari majalah Ads-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 68 vol. 9 No. 02, 1432 H/2011 M, hal. 38.
[3] HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-Kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah (4/1321), Ibnu Hibban (3413), Al-Bazzar dalam musnadnya (7/54). Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi
[4] Lihat kitab Tash-hil fie Ma’rifati Qawa’idi Lughati at-Tanziil hal. 23 oleh Ari Wahyudi
[5] Lihat kitab Mulakhkhash Qawa’idi al-Lughati al-‘Arabiyati hal. 87 oleh Fuad Ni’mah
[6] Majmuu’ Fatawa XXII/510-511. Dikutip dari buku Do’a dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah. Pustaka imam as-syafi’I, cet ke-9, 2008.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
http://www.facebook.com/notes/abdullah-akiera-van-as-samawiey/kenapa-hanya-jazaakallah-%D8%AC%D9%8E%D8%B2%D9%8E%D8%A7%D9%83%D9%8E-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-saja-catatan-akhir-pekan-part-10/237334816309865
Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i yang tetap mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun padahal beliau adalah ulama fiqih yang merupakan keturunan Arab asli yaitu dari kabilah Quraisy. Beliau pun berkata,
“Tidaklah kuinginkan dalam mempelajari (bahasa Arab) ini kecuali agar memudahkan dalam mempelajari fiqh.”[1]
Beliau pula berkata ketika menerangkan keutamaan orang-orang yang mempelajari bahasa Arab,
“Para ahli bahasa Arab adalah jinnya manusia karena mereka mampu mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.”[2]
***
Diantara hal yang menandakan bahwa kaum muslimin di tanah air bersemangat dalam hal pemenuhan kebutuhan berbahasa Arab adalah banyak dan semaraknya penggunaan istilah-istilah berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-sehari.
Tak hanya itu, do’a dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerapkali diucapkan, terutama do’a ketika mendapat kebaikan dari orang lain yaitu “Jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا) yang bermakna “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”.
Mereka berusaha melaksanakan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bincangkan dalam sebuah hadits,
من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
"Siapa-siapa yang diberikan kebaikan lalu dia berucap 'Jazaakallahu khairan' kepada si pemberi maka sungguh itu telah cukup sebagai pujian (dan terima kasih)."[3]
Hanya saja, pada tema ini, tak sedikit kaum mislimin yang mengucapkan “jazaakallah” (جَزَاكَ الله) saja, bukan dengan lengkap “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا).
Dan ini, menurut kami, merupakan sebuah kekeliruan. Ada beberapa argumen yang kami bawakan dalam mengklaim bahwa itu sebuah kekeliruan.
Argumen Pertama
Kata kerja “jazaa” (جَزَا) yang bermakna “membalas”, dalam kaidah bahasa Arab termasuk dalam Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى).
Apa yang dimaksud dengan Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى)?
Dalam kitab Tash-hil fie Ma’rifati Qawa’idi Lughatil at-Tanziil sebutkan bahwa:
الفعل المتعدى هو ما يحتاج إلى مفعول
“Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى) adalah fi’il (kata kerja) yang membutuhkan maf’ul (objek).”[4]
Dalam literatur lain yaitu kitab Mulakhkhash Qawa’idi al-Lughati al-‘Arabiyati disebutkan lebih lengkap tentang definisi ini:
الفعل المتعدى هو الذي لا يكتفي بفاعله ويحتج إلى مفعول به واحد أو أكثر
“Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى) adalah fi’il (kata kerja) yang tak cukup (disebutkan) dengan fa’il (subyek) saja dan fi’il ini membutuhkan sebuah maf’ul bihi (obyek) atau lebih.”[5]
Begitu jelas bahwa jenis kata kerja ini, Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى), tak cukup disebutkan hanya dengan subyek saja namun juga membutuhkan obyek satu atau lebih.
* Contoh kata kerja yang merupakan Fi’il Muta’addi : Fahima” (فهم) = Memahami.
* Contoh kalimat: “Fahima at-talaamiidzu” (فهم التلاميذ) = Siswa memahami.
Memahami apa?
Apa yang dipahami siswa?
Cukupkah dua kata “siswa memahami” dikatakan sebagai kalimat? Dalam bahasa Indonesia pun ini belum cukup. Begitu pula dalam bahasa Arab yang memiliki keteraturan kaidah yang kompleks.
Dalam hal ini dibutuhkanlah maf’ul bihi (obyek) biar perkaranya jelas. Misalkan yang dipahami siswa adalah “ad-darsa” (الدرس)= Pelajaran, maka struktur kalimatnya akan menjadi:
“Fahima at-talaamiidzu ad-darsa” (فهم التلاميذ الدرس)= “Para siswa memahami pelajaran”
Kata “ad-darsa”/pelajaran (الدرس) inilah yang dimaksud dengan maf’ul bihi (obyek) yang harus tertera pada konteks fi’il/kata kerja jenis ini.
Kembali ke obrolan, kata “jazaa” (جَزَا) yang bermakna “membalas”, sebagai Fi’il Muta’addi (الفعل المتعدى) tentu saja/harus membutuhkan objek agar lebih jelas.
Artinya, ketika disebutkan “jazaakallah” (جَزَاكَ الله) saja yang bermakna “semoga Allah membalasmu” maka tidak adanya maf’ul bihi dan ini tentu tidak benar.
Membalas dengan apa?
Dengan apa dibalas?
Inilah kerancuannya. Masih bersifat umum. Bisa membalas dengan kebaikan atau keburukan atau yang lain.
Sesuai dengan konteks hadits di atas maka “khairan” (خيرا)= kebaikan adalah maf’ul bihi (obyek) dan maf’ul bihi ini harus tertera dan tersebutkan oleh lisan kita ketika menyebutnya. Ini yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin.
Jazaakallahu khairan (جزاك الله خيرا)
Argumen Kedua.
Ucapan “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا) yang tertera dalam hadits di atas merupakan do’a dan dzikir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan sehingga pengamalan dan kelengkapan/kesempurnaan lafadznya lebih utama dititikberatkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Do’a dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk do’a dan dzikir paling utama yang seharusnya diamalkan setiap muslim.[6]
Tak hanya itu, pengamalan dan penerapan kelengkapan/kesempurnaan lafadz ini menandakan kualitas ittiba’(peneladanan/pengikutian jejak) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu bertutur:
“Tidak diragukan lagi, do’a dan dzikir adalah termasuk ibadah yang sangat utama. Ibadah itu harus didasari dengan ittiba’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan konsekuen dan konsisten, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula mengada-ada, membuat sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya.”[7]
Ketika pengamalan dan kesempurnaan lafadz do’a dan dzikir, termasuk terkomposisikan dengan niat yang ikhlas, telah terkumpul pada seorang individu maka hasil yang diperoleh juga akan maksimal atau mendekati kesempurnaan.
Kembali kami kutip ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:
“Orang yang melaksanakan do’a dan dzikir yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan merasa aman dan selamat dan akan mendapatkan manfaat serta hasil yang optimal.”[8]
Ketika hanya mengucapkan “jazaakallah” (جَزَاكَ الله)= “semoga Allah membalasmu” saja, bahkan ada yang menulis “jzkllh”dan “jzk”, bukan dengan lengkap “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا), maka adakah kesempurnaaun ittiba’nya? Adakah apik dan indahnya kesempurnaan lafadznya? Adakah kesempurnaan nilai kebaikan yang diperoleh dalam mengikuti sunnah seperti yang ditawarkan hadits di atas?
Tiga buah ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang kami kutip di atas telah menjawab tiga pertanyaan tersebut.
***
Alhasil, ucapkanlah dengan lengkap “jazaakallahu khairan” (جَزَاكَ الله خَيْرًا) agar sesuai dengan kaidah berbahasa, kesempurnaan ittiba’ baik dalam pengamalan dan kesempurnaan lafadznya dan kesempurnaan kebaikan yang akan diperoleh.
Demikian yang kami sampaikan dengan sangat sederhana. Kepada anda sekalian, kami kabarkan bahwa kami menyampaikan ini bukan dalam rangka memposisikan diri sebagai orang yang ahli lagi fasih dalam berbahasa Arab namun dalam rangka membagi-bagi secuil pengetahuan yang kami miliki dan kami pun sedang “tertatih-tatih belajar merangkak untuk bersiap-siap lari sekencang-kencangnya dalam menempuh jarak yang amat jauh.”
Jazaakallahu khairan (جزاك الله خيرا)
***
وفي الختام أرجو أن أكون قد وفقت في هذه الرسالة. وأعوذ بالله من الخطأ والزلل. وأسأله قبول الصالح من العمل. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العلمين. والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين
.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Penyusun: Abdullah Akiera Van As-samawiey
Editor: Johan Saputra Halim
Selesai disusun menjelang adzan dzuhur 23 Ramadhan 1432 H.
Ruang Bidang Dakwah Lantai 2 Masjid Aisyah Radhiyallahu 'anha, Mataram Islamic Centre.
End Notes:
[1] Manaaqib as-Syafi’i, karya Baihaqi II/42.
[2] Ibid, hal 53. Dikutip dari majalah Ads-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 68 vol. 9 No. 02, 1432 H/2011 M, hal. 38.
[3] HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-Kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah (4/1321), Ibnu Hibban (3413), Al-Bazzar dalam musnadnya (7/54). Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi
[4] Lihat kitab Tash-hil fie Ma’rifati Qawa’idi Lughati at-Tanziil hal. 23 oleh Ari Wahyudi
[5] Lihat kitab Mulakhkhash Qawa’idi al-Lughati al-‘Arabiyati hal. 87 oleh Fuad Ni’mah
[6] Majmuu’ Fatawa XXII/510-511. Dikutip dari buku Do’a dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah. Pustaka imam as-syafi’I, cet ke-9, 2008.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
http://www.facebook.com/notes/abdullah-akiera-van-as-samawiey/kenapa-hanya-jazaakallah-%D8%AC%D9%8E%D8%B2%D9%8E%D8%A7%D9%83%D9%8E-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-saja-catatan-akhir-pekan-part-10/237334816309865
Rabu, 21 September 2011
Umur yang mencair seperti es
Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita... semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah....
Rasul saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, " kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa'z, 31)
Saudaraku, sahabatku,
Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.
Saudaraku,
Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali....
Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorogng pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.
Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih.....Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita.... Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan...
Amiiin.
Rasul saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, " kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa'z, 31)
Saudaraku, sahabatku,
Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.
Saudaraku,
Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali....
Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorogng pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.
Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih.....Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita.... Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan...
Amiiin.
SUSUNAN KEPENGURUSAN GMPM LUQMANUL HAKIM PERIODE 2011-2012
Ketua umum : Fadhli Dzil Ikrom
Sekertaris Umum : Hairul Alwan
Bendahara : Desi Irmayanti
1. Dep. Pendidikan : Abdul Halim
-Elsa Herlistiyani
-Muhamad amirudin
- Sohri ramadhan alfikri
2. Dep. Soskem : Muhidin
-Khusnul hotimah
-Indri MiftahulJannah
-Dian Mayasari
-
3. Dep. Kostrad : Mafrukhah
-Maya
-Mellawati
-Desi Triwulansari S
-Zesa Fajar Hidayah
4. Dep. Kaderisasi : Siti Deti Mulyati
-Marfamah
-Evie Herniawaty
-Muhamad Khuluqin Hasan
5. Dep. Kewirausahaan : Siti Fatimah
-Siti Amiroh
6. Dep. Pemberdayaan Masjid : Faturohman
- Dede Mulyadi
7. Dep. Keputrian : Imas Masitoh
- Yuli Yunita
- Evi Safitri
BADAN SEMI OTONOM (BSO)
1. BAQI
Ketua umum : Nurmalasari
Sekertaris Umum : Restu Rini Handayani
Bendahara : Heni Hastuti
Biro Mentor : Fitri Amaliah
Biro Acara : Lilis quratuaeni
Biro Peserta : Mita Fitriana
Calon Mentor Baqi:
- Mita Fitriana
-Nurmalasari
- Heni Hastuti
- Imas Masitoh
- Marfamah
- Ratu Khodijah Permatasari
- Athoillah
- Suandi
- Hamidah
- Intan Komariah
- Yeni sumaini
- Abdul Halim
2. Tutorial
Ketua : Siti Saroh
Wakil Ketua : Riyan Afid
Sekretaris : Hana Cahyati
Biro Administrasi & peraturan : Nurimasari
Biro Acara : Agung Purwa Widian
- Erlan Tresna
- Siti Nursa’diah
Biro Peserta : Irfan Amirudin
- Asulihati
- Dias Nurul Winda
Biro Perpustakaan : Heru Suhendar
- Umdatul Hasanah
- Ririn
- Vovy
Biro Tutor : Makiyah
- Asriatun Fadilah
- Intan
Sekertaris Umum : Hairul Alwan
Bendahara : Desi Irmayanti
1. Dep. Pendidikan : Abdul Halim
-Elsa Herlistiyani
-Muhamad amirudin
- Sohri ramadhan alfikri
2. Dep. Soskem : Muhidin
-Khusnul hotimah
-Indri MiftahulJannah
-Dian Mayasari
-
3. Dep. Kostrad : Mafrukhah
-Maya
-Mellawati
-Desi Triwulansari S
-Zesa Fajar Hidayah
4. Dep. Kaderisasi : Siti Deti Mulyati
-Marfamah
-Evie Herniawaty
-Muhamad Khuluqin Hasan
5. Dep. Kewirausahaan : Siti Fatimah
-Siti Amiroh
6. Dep. Pemberdayaan Masjid : Faturohman
- Dede Mulyadi
7. Dep. Keputrian : Imas Masitoh
- Yuli Yunita
- Evi Safitri
BADAN SEMI OTONOM (BSO)
1. BAQI
Ketua umum : Nurmalasari
Sekertaris Umum : Restu Rini Handayani
Bendahara : Heni Hastuti
Biro Mentor : Fitri Amaliah
Biro Acara : Lilis quratuaeni
Biro Peserta : Mita Fitriana
Calon Mentor Baqi:
- Mita Fitriana
-Nurmalasari
- Heni Hastuti
- Imas Masitoh
- Marfamah
- Ratu Khodijah Permatasari
- Athoillah
- Suandi
- Hamidah
- Intan Komariah
- Yeni sumaini
- Abdul Halim
2. Tutorial
Ketua : Siti Saroh
Wakil Ketua : Riyan Afid
Sekretaris : Hana Cahyati
Biro Administrasi & peraturan : Nurimasari
Biro Acara : Agung Purwa Widian
- Erlan Tresna
- Siti Nursa’diah
Biro Peserta : Irfan Amirudin
- Asulihati
- Dias Nurul Winda
Biro Perpustakaan : Heru Suhendar
- Umdatul Hasanah
- Ririn
- Vovy
Biro Tutor : Makiyah
- Asriatun Fadilah
- Intan
Jumat, 09 September 2011
Aku Mencintaimu Karena Allah
Apapun Kata Orang, Inilah Jalanku dan Pilihanku ... !!!
Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.
Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.
Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja
mereka geleng-geleng.
Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik sok lebay
dan sok bau surga.
Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada,
meskipun letaknya di atas tahta emas.
Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak
Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.
Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)
Ya, aku memang sok lebay. Karena aku adalah manusia yang lemah yang terserang makhluk kecil macam virus saja tubuhku sudah ambruk, manusia yang bodoh yang tidak mengetahui nasib hidupku satu detik setelah ini, manusia yang serba kurang dan punya batas waktu yang ketika waktu itu habis aku tidak bisa mengulurnya ataupun mempercepatnya
Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga...
Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat...
Manusia dibekali Islam dan Muhammad Sallaullahu'alaihiwasallam
sebagai pembawa huda dan haq
Manusia juga dibekali akal oleh Rabb Sang Pencipta
Namun, manusia diberi kebebasan memilih untuk hidupnya
Dan, there is only one choice
Untuk itulah aku memilih jalanku
Memilih jalan hidupku
Hidup yang aku dambakan
Mendamba apa yang telah dijanjikanNya
Janji yang tak akan pernah teringkari
Whatever... what they said
“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Qs. Al-An’am 116).
"Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Qs. Ar-Rum 6).
Semoga bermanfaat !!!
Jazakumullahu khoiran.
SALAM UHIBBUKUM FILLAH (^_^)
Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.
Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.
Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja
mereka geleng-geleng.
Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik sok lebay
dan sok bau surga.
Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada,
meskipun letaknya di atas tahta emas.
Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak
Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.
Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)
Ya, aku memang sok lebay. Karena aku adalah manusia yang lemah yang terserang makhluk kecil macam virus saja tubuhku sudah ambruk, manusia yang bodoh yang tidak mengetahui nasib hidupku satu detik setelah ini, manusia yang serba kurang dan punya batas waktu yang ketika waktu itu habis aku tidak bisa mengulurnya ataupun mempercepatnya
Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga...
Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat...
Manusia dibekali Islam dan Muhammad Sallaullahu'alaihiwasallam
sebagai pembawa huda dan haq
Manusia juga dibekali akal oleh Rabb Sang Pencipta
Namun, manusia diberi kebebasan memilih untuk hidupnya
Dan, there is only one choice
Untuk itulah aku memilih jalanku
Memilih jalan hidupku
Hidup yang aku dambakan
Mendamba apa yang telah dijanjikanNya
Janji yang tak akan pernah teringkari
Whatever... what they said
“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Qs. Al-An’am 116).
"Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Qs. Ar-Rum 6).
Semoga bermanfaat !!!
Jazakumullahu khoiran.
SALAM UHIBBUKUM FILLAH (^_^)
Selasa, 31 Mei 2011
Di bulan Mei
Dengan mengucap puji syukur kehadirat illahi rabbi...
serta sholawat beserta salam yang slalu terpanjatkan pada junjungan Nabi Muhammad saw..
alhamdulillah... akhirnya acara Great moments 2nd GMPM
selesai....juga.....
selamat dan sukses selalu untuk para panitia Great moment..
semoga semuanya menjadi pelajaran bagi kita semua dan menjadi evaluasi untuk kedepan agar acara GMPM menjadi lebih bermakna dan meriah lagi,...
serta kita dapat lebih mempererat ukhuwah kita semua..
Allahu Akbar..!!!!
serta sholawat beserta salam yang slalu terpanjatkan pada junjungan Nabi Muhammad saw..
alhamdulillah... akhirnya acara Great moments 2nd GMPM
selesai....juga.....
selamat dan sukses selalu untuk para panitia Great moment..
semoga semuanya menjadi pelajaran bagi kita semua dan menjadi evaluasi untuk kedepan agar acara GMPM menjadi lebih bermakna dan meriah lagi,...
serta kita dapat lebih mempererat ukhuwah kita semua..
Allahu Akbar..!!!!
Kamis, 28 April 2011
Kabar Terbaru... New..enew...^^
assalamu'alaikum wrm. wbr.
hai2 sobat-sobat semua.... ketemu lage ney sama GMPM^^
pa kabarnya hari nie...
mga pada sehat semua yah...
da info terbaru ney dari GMPM...
kita mau ngadain
yang acaranya tuh dijamin seru...
check it out...
21 Mei 2011 kita akan mengadakan acara Perlombaan Pidato Bahasa Indonesia tingkat SMA-sederajat
mulai pukul 09.00 s.d selesai
Pendaftaran bisa langsung ke kesekretariatan GMPM UPI di Ciracas
atau ke alamat email/fb di
gmpm_upiserang@rocketmail.com
Pendaftaran terakhir tanggal 30 April 2011
Technicl Meeting tanggal 1 Mei 2011
so dont miss it ^^
29 Mei 2011 da bedah Buku Karya Salim A. Fillah yang judulnya Dalam Dekapan UKhuwah...
htm:
umum : Rp 20.000
Mahasiswa : Rp 15.000
pelajar : Rp 10.000
so... dateng yah... n jangan lupa undang teman2, saudara, atau seluruh keluarganya,,,
this the pamflet..
and this the ticket...
hai2 sobat-sobat semua.... ketemu lage ney sama GMPM^^
pa kabarnya hari nie...
mga pada sehat semua yah...
da info terbaru ney dari GMPM...
kita mau ngadain
GREAT MOMENTS OF GMPM 2nd
yang acaranya tuh dijamin seru...
check it out...
21 Mei 2011 kita akan mengadakan acara Perlombaan Pidato Bahasa Indonesia tingkat SMA-sederajat
mulai pukul 09.00 s.d selesai
Pendaftaran bisa langsung ke kesekretariatan GMPM UPI di Ciracas
atau ke alamat email/fb di
gmpm_upiserang@rocketmail.com
Pendaftaran terakhir tanggal 30 April 2011
Technicl Meeting tanggal 1 Mei 2011
so dont miss it ^^
29 Mei 2011 da bedah Buku Karya Salim A. Fillah yang judulnya Dalam Dekapan UKhuwah...
htm:
umum : Rp 20.000
Mahasiswa : Rp 15.000
pelajar : Rp 10.000
so... dateng yah... n jangan lupa undang teman2, saudara, atau seluruh keluarganya,,,
this the pamflet..
and this the ticket...
Jumat, 01 April 2011
KISAH SEKANTUNG KUE
Sahabat! Ini adalah sebuah kisah yang sarat dengan hikmah. Diberi nama kisah sepotong kue. Kisah ini mengandung banyak pelajaran. Kita diajari bagaimana menilai orang lain, bagaimana kita memahami mereka. Dan yang paling penting bagaimana kita menilai diri kita sendiri dengan benar. Berani introspeksi diri dan mencoba memperbaiki kekurangannya.
==============================
Suatu malam seorang wanita sedang menunggu di bandara. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, Ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si “Pencuri Kue” menghabiskan persediaannya. Menit-menit berlalu ia semakin kesal. Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!“.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki itu mengambil satu juga. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir:
“Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal seperti ini. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri” tak tahu terima kasih itu. Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Ia pun tertegun.
Terlambat untuk minta maaf, ia bersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dia lah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah pencuri kue itu!
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah,
Orang lainlah yang patut disingkirkan,
Orang lainlah yang tak tahu diri,
Orang lainlah yang berdosa,
Orang lainlah yang selalu bikin masalah,
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.
Padahal…
Kita sendiri yang mencuri kue tadi,
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.
Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain . Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.
sumber: inbox seorang motivator...
kami mu ngucapin makasih wat kisahnya^^
==============================
Suatu malam seorang wanita sedang menunggu di bandara. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, Ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si “Pencuri Kue” menghabiskan persediaannya. Menit-menit berlalu ia semakin kesal. Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!“.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki itu mengambil satu juga. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir:
“Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal seperti ini. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri” tak tahu terima kasih itu. Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Ia pun tertegun.
Terlambat untuk minta maaf, ia bersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dia lah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah pencuri kue itu!
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah,
Orang lainlah yang patut disingkirkan,
Orang lainlah yang tak tahu diri,
Orang lainlah yang berdosa,
Orang lainlah yang selalu bikin masalah,
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.
Padahal…
Kita sendiri yang mencuri kue tadi,
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.
Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain . Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.
sumber: inbox seorang motivator...
kami mu ngucapin makasih wat kisahnya^^
Kamis, 10 Maret 2011
Dibulan maret....
assalam....
da apa sey dibulan maret? teryata da hari2 istimewa ney....
20 MARET: HARI KEHUTANAN SEDUNIA
22 MARET: HARI AIR
di bulan ini rencananya kostrad mu ganti tampilan mading yang baru ney... tema'na ang berkaitan sama hari besar di bulan maret yaitu tentang lingkungan... so qta bakal ngambil tema yang berhubungan sama lingkungan...
berhubungan dengan lingkungan, bisa kita tengok lingkungan bumi kita saat ini.. hmm bumi qta dah makin berumur jah usianya, sama kaya manusia dan makhluk lainnya.. semakin tua maka semakin lemah dan rapuh ...so tugas qta adalah menaga lingkungan sekitar^^
da sebuah artikel ney yang ngejelasin tentang pelestarian lingkungan hidup menurut Islam check it out...
Pelestarian Lingkungan Hidup menurut Islam
Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.
Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah: 30 (“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”…). Arti khalifah di sini adalah: “seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara”. Di samping itu, Surat Ar-Rahman, khususnya ayat 1-12, adalah ayat yang luar biasa indah untuk menggambarkan penciptaan alam semesta dan tugas manusia sebagai khalifah.
Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat. dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:
“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names of all things he gains domination over them, but he is given this power only because he is the vicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the right to dominate over nature only by virtue of his theomorphic make up, not as a rebel against heaven.” Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).
Allah telah memberikan tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan hidup. Karena waktu perenungan, hanya beberapa dalil saja yang diulas sebagai landasan untuk merumuskan teori tentang lingkungan hidup menurut ajaran Islam.
Dua dalil pertama pembuka diskusi ini bersumber pada Surat Al An’aam 101 dan Al Baqarah 30.
Dalil pertama adalah: “Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan hanya Dialah sumber pengetahuannya”. Lalu dalil kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi. Manusia harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak untuk menjadi khafilah.
Seperti halnya dalil pertama, dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan Young (1994) berpendapat bahwa tauhid adalah salah satu kunci untuk memahami masalah lingkungan hidup. Tauhid adalah pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan bahwa Dia-lah pencipta alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al An’aam 79:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”
Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al An’aam, dengan arti sebagai berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang..”
Adapun dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan maksud dari penciptaan alam semesta, “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,….Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.”
Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia dapat berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.
Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis dalam Surat Al An’aam 102 yaitu, “..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”
Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini adalah Surat Al A’raaf 56 diterjemahkan sebagai berikut;
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Selanjutnya dalil ke delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”
Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam literatur barat sebagai: siklus Hidrologi.
Dalil ini bersumber dari beberapa firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat An Nuur 43, Surat Al A’raaf 57, Surat An Nabaa’ 14-16, Surat Al Waaqi’ah 68-70, dan beberapa Surat/Ayat lainnya. Penjelasan mengenai siklus hidrologi dalam berbagai firman Allah merupakan pertanda bahwa manusia wajib mempelajarinya. Perhatikan isi Surat Ar Ruum: 48 dengan uraian siklus hidrologi berikut ini. Hujan seharusnya membawa kegembiraaan karena menyuburkan tanah dan merupakan sumber kehidupan.
Surat Ar Ruum 48 Siklus hidrologi
Mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke sungai/danau/laut, Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi, adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.
Ini dengan jelas digambarkan dalam Al-Qur’an surat ar-Ruum:48 yang berbunyi;
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hambahamba-Nya yang dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih jasmani dan rohaninya. Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan jasmani merupakan bagian integral dari kebersihan rohani.
Merujuk pada Surat Al-Baqarah 222; “….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5; “..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa.”
Meski slogan yang dikenal umum seperti “kebersihan adalah sebagian dari iman”, banyak diakui sebagai hadis dhaif, namun demikian, Rasulluah S.A.W. bersabda bahwa iman terdiri dari 70 tingkatan: yang tertinggi adalah pernyataan “tiada Tuhan selain Allah” dan yang terendah adalah menjaga kerbersihan. Jadi, memelihara lingkungan hidup adalah menjadi bagian integral dari tingkat keimanan seseorang. Khususnya beragama Islam.
Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai.”
Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat Surat Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; “Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.”
Dalil-dalil di atas adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup yang dikenal dengan nama “Teorema Alim” yang dirumuskan sebagai berikut:
Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan keahlian. Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan. Berdasarkan “Teorema Alim” ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan dari turunnya kadar keimanan manusia.
Rasulullah S.A.W. dan para sahabat telah memberikan teladan pengelolaan lingkungan hidup yang mengacu kepada tauhid dan keimanan. Seperti yang dilaporkan Sir Thomas Arnold (1931) bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup. Standar inilah yang mempengaruhi pembangunan kota Cordoba. Menjadikan kota ini memiliki tingkat peradaban tertinggi di Eropa pada masa itu. Kota dengan 70 perpustakaan yang berisi ratusan ribu koleksi buku, 900 tempat pemandian umum, serta pusatnya segala macam profesi tercanggih pada masa itu. Kebersihan dan keindahan kota tersebut menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.
Contoh lain adalah inovasi rumah sakit dan manajemennya (Arnold, 1931). Pada masa itu manajemen rumah sakit sudah sedemikian canggihnya sebagai pusat perawatan dan juga pusat pendidikan calon-calon dokter. Rumah sakit tersebut sudah memiliki ahli bedah, ahli mata, dokter umum, perawat, dan administrator. Tercatat 34 rumah sakit yang tersebar dari Persia ke Maroko serta dari Siria Utara sampai ke Mesir. Rumah sakit pertama yang berdiri di Kairo pada tahun 872 Masehi, bahkan beroperasi selama 700 tahun kemudian. Inovasi bidang kesehatan ini bahkan berkembang sampai pada penemuan ambulan atau menurut Arnold (1931) sebagai “traveling hospital”.
Teorema Alim ini mengandung dua unsur yaitu misi dan tolok ukur. Misi dapat diemban apabila diiringi visi mendekatkan diri pada Allah dan dibekali ketajaman nalar, yaitu kelembagaan, keahlian, dan kegiatan. Tolok ukur yang jelas adalah mutu lingkungan hidup di Indonesia sebagai rambu-rambu untuk menilai keberhasilan pelaksanaan misi manusia yaitu mencegah bumi dari kerusakan lingkungan.
Dapat dikatakan Indonesia telah memiliki perangkat yang cukup untuk mencapai misi yaitu kelembagaan dalam bidang lingkungan hidup (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Pusat Studi Lingkungan Hidup, dan lainnya), tak terbilang jumlah doktor yang mendalami ilmu lingkungan, serta intensitas yang tinggi dalam penelitian lingkungan. Namun simaklah sekali lagi berbagai persoalan lingkungan hidup di Indonesia berikut ini. Menatap langit di sepanjang jalan Sudirman, seorang awam sudah tahu bahwa udara Jakarta memang beracun. Penyakitpun datang silih berganti, dan kali ini penyakit mematikan seperti HIV, SAR, demam berdarah, dan flu burung berjangkit di mana-mana.
Terlebih lagi air sungai sungguh sangat kotor karena pembuangan sampah padat. Sungai Ciliwung, misalnya, setiap hari menampung 1,400 M3 sampah (Kompas, 1996). Hal ini berarti bahwa kurang lebih 200-400 truk membuang sampah padat ke sungai tersebut setiap harinya! Pelayanan air minum juga sangat rendah. Alim (2005) melaporkan bahwa baru sekitar 40 persen penduduk mendapat pelayanan air bersih, dan dari total volume air yang disalurkan hanya 20% yang layak digunakan karena umumnya air yang sampai ke rumah masih berlumpur.
Hal ini diperburuk oleh kondisi pemerintahan di Indonesia karena aparat yang ingkar amanah. Salah satu contoh kebohongan pemerintah adalah kasus kebakaran hutan. Soentoro (1997) melaporkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997 telah menghanguskan 1 juta hektar hutan, nyatanya pemerintah melaporkan 300,000 hektar saja. Masalah tidak transparannya birokrasi sudah lama mengganjal jalannya roda pemerintahan.
Sudah jelas bahwa ketajaman nalar yang tidak diiringi oleh kadar keimanan tinggi serta jauhnya umat Islam dari Allah, telah menciptakan masalah lingkungan hidup.
Menyadari runyamnya masalah lingkungan hidup, langkah pertama pemecahannya adalah peningkatan “ukhuwah” (kerjasama) antar ilmuwan dan alim-ulama agar bahu-membahu mampu mengemban amanat Allah untuk memelihara bumi. Salah satu hasil kerjasama tersebut adalah program pelatihan bagi para tokoh agama untuk memperdalam wawasan lingkungan hidup. Solusi jangka pendek lainnya adalah penyusunan program pemeliharaan lingkungan sebagai materi khutbah jumat, serta penerbitan fatwa untuk menghentikan pencemaran sungai.
Untuk jangka panjang perlu digarap sektor pendidikan dimana perlu dikembangkan bidang ilmu ataupun kurikulum yang menjadian ilmu pelestarian lingkungan hidup adalah bagian integral dari kajian ajaran Islam. Pengembangan disiplin ini juga perlu mempertimbangkan ukhuwah yang bersifat internasional, karena persoalan lingkungan hidup juga telah membebani negara muslim lainnya. Dengan pendidikan akan tumbuh kesadaran bahwa lingkungan hidup bukan bidang yang menjadi monopoli peradaban barat, tetapi merupakan bagian integral dari keimanan.
Salah satu contoh pendekatan pelestarian lingkungan melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berhasil adalah di Tanzania. Bekerjasama dengan CARE-organisasi bantuan untuk memberantas kemiskinan di dunia-IFEES menggelar pertemuan dengan para pemuka agama dan para nelayan untuk mendiskusikan bagaimana hubungan antara ayat-ayat yang ada dalam al-Quran dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran serta hadist, mereka berusaha meyakinkan para nelayan untuk tidak lagi menggunakan dinamit, jala dan tombak ketika menangkap ikan.
IFEES juga bekerjasama dengan Misali Island Conservation (MICA)-lembaga yang bergerak dalam perlindungan terumbu karang-untuk melatih para imam-imam masjid di Tanzania agar mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan lewat khutbah-khutbah Jumat mereka. IFEES yang berbasis di Inggris, adalah salah satu organisasi yang pada tahun 1998 meluncurkan proyek penyadaran kelestarian lingkungan dengan menggunakan basis ajaran Islam. "Kami mencari ajaran-ajaran yang sudah terlupakan itu dan mengumpulkannya kembali dalam bentuk yang modern, " kata Khalid.
"Saya sekarang tahu bahwa cara saya menangkap ikan selama ini sudah merusak lingkungan. Konservasi ini bukan dari mzungu (kata untuk menyebut orang kulit putih dalam bahasa Swahili, yang digunakan di seluruh Afrika Timur-red), tapi dari al-Quran, " ujar Salim Haji, seorang nelayan di sebuah pulau kecil. Proyek ini membuahkan hasil setahun setelah diluncurkan, terutama di Misali dan kepulauan Zanzibar yang didominasi warga Muslim. Saat ini, banyak nelayan di Misali yang sudah mengganti alat penangkap ikannya dengan alat yang lebih ramah lingkungan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
artikel dari berbagai sumber tentang pelestarian lingkungan hidup menurut Islam..
balik lage ke topik pertama... wat temen2 yang punya karya, kayak artikel, gambar, kaligrafi, poster dll. tentang lingkungan hidup.. ditunggu partisipasinya wat ngirimin karya2na ke DEP. KOSTRAD GMPM-LH
ditunggu yah...
wassalam...
da apa sey dibulan maret? teryata da hari2 istimewa ney....
20 MARET: HARI KEHUTANAN SEDUNIA
22 MARET: HARI AIR
di bulan ini rencananya kostrad mu ganti tampilan mading yang baru ney... tema'na ang berkaitan sama hari besar di bulan maret yaitu tentang lingkungan... so qta bakal ngambil tema yang berhubungan sama lingkungan...
berhubungan dengan lingkungan, bisa kita tengok lingkungan bumi kita saat ini.. hmm bumi qta dah makin berumur jah usianya, sama kaya manusia dan makhluk lainnya.. semakin tua maka semakin lemah dan rapuh ...so tugas qta adalah menaga lingkungan sekitar^^
da sebuah artikel ney yang ngejelasin tentang pelestarian lingkungan hidup menurut Islam check it out...
Pelestarian Lingkungan Hidup menurut Islam
Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.
Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah: 30 (“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”…). Arti khalifah di sini adalah: “seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara”. Di samping itu, Surat Ar-Rahman, khususnya ayat 1-12, adalah ayat yang luar biasa indah untuk menggambarkan penciptaan alam semesta dan tugas manusia sebagai khalifah.
Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat. dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:
“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names of all things he gains domination over them, but he is given this power only because he is the vicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the right to dominate over nature only by virtue of his theomorphic make up, not as a rebel against heaven.” Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).
Allah telah memberikan tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan hidup. Karena waktu perenungan, hanya beberapa dalil saja yang diulas sebagai landasan untuk merumuskan teori tentang lingkungan hidup menurut ajaran Islam.
Dua dalil pertama pembuka diskusi ini bersumber pada Surat Al An’aam 101 dan Al Baqarah 30.
Dalil pertama adalah: “Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan hanya Dialah sumber pengetahuannya”. Lalu dalil kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi. Manusia harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak untuk menjadi khafilah.
Seperti halnya dalil pertama, dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan Young (1994) berpendapat bahwa tauhid adalah salah satu kunci untuk memahami masalah lingkungan hidup. Tauhid adalah pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan bahwa Dia-lah pencipta alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al An’aam 79:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”
Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al An’aam, dengan arti sebagai berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang..”
Adapun dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan maksud dari penciptaan alam semesta, “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,….Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.”
Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia dapat berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.
Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis dalam Surat Al An’aam 102 yaitu, “..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”
Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini adalah Surat Al A’raaf 56 diterjemahkan sebagai berikut;
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Selanjutnya dalil ke delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”
Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam literatur barat sebagai: siklus Hidrologi.
Dalil ini bersumber dari beberapa firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat An Nuur 43, Surat Al A’raaf 57, Surat An Nabaa’ 14-16, Surat Al Waaqi’ah 68-70, dan beberapa Surat/Ayat lainnya. Penjelasan mengenai siklus hidrologi dalam berbagai firman Allah merupakan pertanda bahwa manusia wajib mempelajarinya. Perhatikan isi Surat Ar Ruum: 48 dengan uraian siklus hidrologi berikut ini. Hujan seharusnya membawa kegembiraaan karena menyuburkan tanah dan merupakan sumber kehidupan.
Surat Ar Ruum 48 Siklus hidrologi
Mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke sungai/danau/laut, Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi, adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.
Ini dengan jelas digambarkan dalam Al-Qur’an surat ar-Ruum:48 yang berbunyi;
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hambahamba-Nya yang dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih jasmani dan rohaninya. Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan jasmani merupakan bagian integral dari kebersihan rohani.
Merujuk pada Surat Al-Baqarah 222; “….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5; “..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa.”
Meski slogan yang dikenal umum seperti “kebersihan adalah sebagian dari iman”, banyak diakui sebagai hadis dhaif, namun demikian, Rasulluah S.A.W. bersabda bahwa iman terdiri dari 70 tingkatan: yang tertinggi adalah pernyataan “tiada Tuhan selain Allah” dan yang terendah adalah menjaga kerbersihan. Jadi, memelihara lingkungan hidup adalah menjadi bagian integral dari tingkat keimanan seseorang. Khususnya beragama Islam.
Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai.”
Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat Surat Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; “Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.”
Dalil-dalil di atas adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup yang dikenal dengan nama “Teorema Alim” yang dirumuskan sebagai berikut:
Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan keahlian. Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan. Berdasarkan “Teorema Alim” ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan dari turunnya kadar keimanan manusia.
Rasulullah S.A.W. dan para sahabat telah memberikan teladan pengelolaan lingkungan hidup yang mengacu kepada tauhid dan keimanan. Seperti yang dilaporkan Sir Thomas Arnold (1931) bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup. Standar inilah yang mempengaruhi pembangunan kota Cordoba. Menjadikan kota ini memiliki tingkat peradaban tertinggi di Eropa pada masa itu. Kota dengan 70 perpustakaan yang berisi ratusan ribu koleksi buku, 900 tempat pemandian umum, serta pusatnya segala macam profesi tercanggih pada masa itu. Kebersihan dan keindahan kota tersebut menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.
Contoh lain adalah inovasi rumah sakit dan manajemennya (Arnold, 1931). Pada masa itu manajemen rumah sakit sudah sedemikian canggihnya sebagai pusat perawatan dan juga pusat pendidikan calon-calon dokter. Rumah sakit tersebut sudah memiliki ahli bedah, ahli mata, dokter umum, perawat, dan administrator. Tercatat 34 rumah sakit yang tersebar dari Persia ke Maroko serta dari Siria Utara sampai ke Mesir. Rumah sakit pertama yang berdiri di Kairo pada tahun 872 Masehi, bahkan beroperasi selama 700 tahun kemudian. Inovasi bidang kesehatan ini bahkan berkembang sampai pada penemuan ambulan atau menurut Arnold (1931) sebagai “traveling hospital”.
Teorema Alim ini mengandung dua unsur yaitu misi dan tolok ukur. Misi dapat diemban apabila diiringi visi mendekatkan diri pada Allah dan dibekali ketajaman nalar, yaitu kelembagaan, keahlian, dan kegiatan. Tolok ukur yang jelas adalah mutu lingkungan hidup di Indonesia sebagai rambu-rambu untuk menilai keberhasilan pelaksanaan misi manusia yaitu mencegah bumi dari kerusakan lingkungan.
Dapat dikatakan Indonesia telah memiliki perangkat yang cukup untuk mencapai misi yaitu kelembagaan dalam bidang lingkungan hidup (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Pusat Studi Lingkungan Hidup, dan lainnya), tak terbilang jumlah doktor yang mendalami ilmu lingkungan, serta intensitas yang tinggi dalam penelitian lingkungan. Namun simaklah sekali lagi berbagai persoalan lingkungan hidup di Indonesia berikut ini. Menatap langit di sepanjang jalan Sudirman, seorang awam sudah tahu bahwa udara Jakarta memang beracun. Penyakitpun datang silih berganti, dan kali ini penyakit mematikan seperti HIV, SAR, demam berdarah, dan flu burung berjangkit di mana-mana.
Terlebih lagi air sungai sungguh sangat kotor karena pembuangan sampah padat. Sungai Ciliwung, misalnya, setiap hari menampung 1,400 M3 sampah (Kompas, 1996). Hal ini berarti bahwa kurang lebih 200-400 truk membuang sampah padat ke sungai tersebut setiap harinya! Pelayanan air minum juga sangat rendah. Alim (2005) melaporkan bahwa baru sekitar 40 persen penduduk mendapat pelayanan air bersih, dan dari total volume air yang disalurkan hanya 20% yang layak digunakan karena umumnya air yang sampai ke rumah masih berlumpur.
Hal ini diperburuk oleh kondisi pemerintahan di Indonesia karena aparat yang ingkar amanah. Salah satu contoh kebohongan pemerintah adalah kasus kebakaran hutan. Soentoro (1997) melaporkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997 telah menghanguskan 1 juta hektar hutan, nyatanya pemerintah melaporkan 300,000 hektar saja. Masalah tidak transparannya birokrasi sudah lama mengganjal jalannya roda pemerintahan.
Sudah jelas bahwa ketajaman nalar yang tidak diiringi oleh kadar keimanan tinggi serta jauhnya umat Islam dari Allah, telah menciptakan masalah lingkungan hidup.
Menyadari runyamnya masalah lingkungan hidup, langkah pertama pemecahannya adalah peningkatan “ukhuwah” (kerjasama) antar ilmuwan dan alim-ulama agar bahu-membahu mampu mengemban amanat Allah untuk memelihara bumi. Salah satu hasil kerjasama tersebut adalah program pelatihan bagi para tokoh agama untuk memperdalam wawasan lingkungan hidup. Solusi jangka pendek lainnya adalah penyusunan program pemeliharaan lingkungan sebagai materi khutbah jumat, serta penerbitan fatwa untuk menghentikan pencemaran sungai.
Untuk jangka panjang perlu digarap sektor pendidikan dimana perlu dikembangkan bidang ilmu ataupun kurikulum yang menjadian ilmu pelestarian lingkungan hidup adalah bagian integral dari kajian ajaran Islam. Pengembangan disiplin ini juga perlu mempertimbangkan ukhuwah yang bersifat internasional, karena persoalan lingkungan hidup juga telah membebani negara muslim lainnya. Dengan pendidikan akan tumbuh kesadaran bahwa lingkungan hidup bukan bidang yang menjadi monopoli peradaban barat, tetapi merupakan bagian integral dari keimanan.
Salah satu contoh pendekatan pelestarian lingkungan melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berhasil adalah di Tanzania. Bekerjasama dengan CARE-organisasi bantuan untuk memberantas kemiskinan di dunia-IFEES menggelar pertemuan dengan para pemuka agama dan para nelayan untuk mendiskusikan bagaimana hubungan antara ayat-ayat yang ada dalam al-Quran dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran serta hadist, mereka berusaha meyakinkan para nelayan untuk tidak lagi menggunakan dinamit, jala dan tombak ketika menangkap ikan.
IFEES juga bekerjasama dengan Misali Island Conservation (MICA)-lembaga yang bergerak dalam perlindungan terumbu karang-untuk melatih para imam-imam masjid di Tanzania agar mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan lewat khutbah-khutbah Jumat mereka. IFEES yang berbasis di Inggris, adalah salah satu organisasi yang pada tahun 1998 meluncurkan proyek penyadaran kelestarian lingkungan dengan menggunakan basis ajaran Islam. "Kami mencari ajaran-ajaran yang sudah terlupakan itu dan mengumpulkannya kembali dalam bentuk yang modern, " kata Khalid.
"Saya sekarang tahu bahwa cara saya menangkap ikan selama ini sudah merusak lingkungan. Konservasi ini bukan dari mzungu (kata untuk menyebut orang kulit putih dalam bahasa Swahili, yang digunakan di seluruh Afrika Timur-red), tapi dari al-Quran, " ujar Salim Haji, seorang nelayan di sebuah pulau kecil. Proyek ini membuahkan hasil setahun setelah diluncurkan, terutama di Misali dan kepulauan Zanzibar yang didominasi warga Muslim. Saat ini, banyak nelayan di Misali yang sudah mengganti alat penangkap ikannya dengan alat yang lebih ramah lingkungan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
artikel dari berbagai sumber tentang pelestarian lingkungan hidup menurut Islam..
balik lage ke topik pertama... wat temen2 yang punya karya, kayak artikel, gambar, kaligrafi, poster dll. tentang lingkungan hidup.. ditunggu partisipasinya wat ngirimin karya2na ke DEP. KOSTRAD GMPM-LH
ditunggu yah...
wassalam...
Selasa, 01 Maret 2011
HINDARI BERBUAT DZOLIM
dzalim adalah hal yang slalu kita hindari...
tapi tanpa kita sadari itu terkadang kita lakukan..
sebenarnya apa sih dzalim itu???
Kalimat dzalim, menurut Wikipedia bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat dzalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.
Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa makna dzalim merujuk pada praktek meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya secara proporsional. Orang tua misalnya, adalah sosok yang seharusnya dihormati, dan merupakan bentuk kedzaliman ketika mereka dilecehkan dan direndahkan. Anak adalah amanat Allah yang harus dijaga dan ditumbuhkembangan, dan menjadi dzalim jika mereka ditelantarkan.
Selain itu, definisi-definisi tersebut juga memberikan pengertian bahwa dzalim selalu berkonotasi pada adanya tindak merugikan orang lain. Maka, kedzaliman adalah setiap perbuatan yang meniadakan hak-hak kemanusiaan seseorang, merampas hartanya, menghilangkan kesempatannya untuk bekerja, memperlakukannya secara tidak adil, serta menyebabkan kehidupannya berada dalam dzalam (kegelapan).
Dalam tindakan kedzaliman, manusia dibagi menjadi dzalim (pelaku) dan madzlum (pihak yang terdzalimi). Pihak pertama merupakan penyebab timbulnya tindakan aniaya, biasanya diidentikkan dengan pihak pemengang kekuasaan yang lebih superior sementara yang kedua adalah pihak yang inferior. Orang tua terhadap anaknya, guru terhadap muridnya, pemimpin terhadap rakyat atau bawahannya, dan si kuat terhadap yang lemah. Meski demikian, orang-orang yang dianggap lemahpun juga bisa berbuat aniaya dalam kapasitas mereka sendiri seperti dalam kasus durhakanya anak pada para orang tua. Lebih dari itu, seseorang juga dapat disebut dzalim li nafsih (menganiaya diri sendiri) ketika ia menelantarkan dirinya, atau bahkan mendatangkan kerugian untuk diri sendiri.
ada hadits nih...
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .
[رواه مسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir semuanya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya.
"Wahai hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman atas diriKu dan Aku telah menetapkan haramnya(kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim..." (HR Muslim).
hmmm, semoga bermanfaat dan kita senantiasa terhindar dari perbuatan demikian...
ayo tetep berusaha dijalanNya...
keep smile n' spirit sahabat...
hanya kepadaNya-lah kita meminta..
dan hanya dariNya-lah segala pertolongan itu ada..
^_^
tapi tanpa kita sadari itu terkadang kita lakukan..
sebenarnya apa sih dzalim itu???
Kalimat dzalim, menurut Wikipedia bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat dzalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.
Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa makna dzalim merujuk pada praktek meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya secara proporsional. Orang tua misalnya, adalah sosok yang seharusnya dihormati, dan merupakan bentuk kedzaliman ketika mereka dilecehkan dan direndahkan. Anak adalah amanat Allah yang harus dijaga dan ditumbuhkembangan, dan menjadi dzalim jika mereka ditelantarkan.
Selain itu, definisi-definisi tersebut juga memberikan pengertian bahwa dzalim selalu berkonotasi pada adanya tindak merugikan orang lain. Maka, kedzaliman adalah setiap perbuatan yang meniadakan hak-hak kemanusiaan seseorang, merampas hartanya, menghilangkan kesempatannya untuk bekerja, memperlakukannya secara tidak adil, serta menyebabkan kehidupannya berada dalam dzalam (kegelapan).
Dalam tindakan kedzaliman, manusia dibagi menjadi dzalim (pelaku) dan madzlum (pihak yang terdzalimi). Pihak pertama merupakan penyebab timbulnya tindakan aniaya, biasanya diidentikkan dengan pihak pemengang kekuasaan yang lebih superior sementara yang kedua adalah pihak yang inferior. Orang tua terhadap anaknya, guru terhadap muridnya, pemimpin terhadap rakyat atau bawahannya, dan si kuat terhadap yang lemah. Meski demikian, orang-orang yang dianggap lemahpun juga bisa berbuat aniaya dalam kapasitas mereka sendiri seperti dalam kasus durhakanya anak pada para orang tua. Lebih dari itu, seseorang juga dapat disebut dzalim li nafsih (menganiaya diri sendiri) ketika ia menelantarkan dirinya, atau bahkan mendatangkan kerugian untuk diri sendiri.
ada hadits nih...
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .
[رواه مسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir semuanya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya.
"Wahai hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman atas diriKu dan Aku telah menetapkan haramnya(kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim..." (HR Muslim).
hmmm, semoga bermanfaat dan kita senantiasa terhindar dari perbuatan demikian...
ayo tetep berusaha dijalanNya...
keep smile n' spirit sahabat...
hanya kepadaNya-lah kita meminta..
dan hanya dariNya-lah segala pertolongan itu ada..
^_^
Jumat, 18 Februari 2011
Curhat di Februari 2011
da TIM KOSTRAD yang udar-ider ngurusin buletin , eh malah lum jadi2 mpe sekarang tanggal ini haha................. mav ye...
mu tw isi buletin kali nie.... tema.na "love for All day"
layout, qta pake tampilan fb... da kuisioner juga ney
da polling juga ney...
Da apa sey di bulan Februari?? … biasanya remaja di dunia sangat hafal banget sama yang namanya perayaan di bulan februari, hmm apa sey? Yuk kita tengok hasil poling pengetahuan dari mahasiswa/I UPI kampus Srang….
1. Apakah kamu tau da perayaan apa di tanggal 14 Februari?
2. Apakah kamu tau tentang sejarah hari valentine?
3. Apakah kamu pernah atau suka merayakan valentine?
wat yg ngerayain...ada juga sebagian yang pernah ngerayain... hmmm
da juga artikel tentang makna maulid nabi...
jangan lupa pada dateng yah....^^
catatan hari ini...@Januari'11
assalam
hai sobat smua...^^ gimana kabarnya ney??? mga qta semua dalam keadaan sehat wal'afiat...amiin..
sekarang dah masuk bulan februari hmm gak kerasa yah awal tahun ini dah dilalui.. satu bulan di januari tuh banyak banget ceritanya... diantaranye da PMD 1 pas tanggal 22 mpe tanggal 23 januari 2011... wuih acaranya tuh seru tentunya... da materi yang bermanfaat, asyik, and menyenangkan. ney liat ja muka-muka.na...
wah seru yah gamenya.................................. selamet yah yg dah lulus di PMD 1, moga tetep amanah di GMPM.. Allahu Akbar...^^9
da lagi ney acara yang seru... TCA (Temu civitas Akademika) seantero UPI PGSD... da lomba-lomba yang buanyak banget... diantaranya, pastinya ada tentang keagamaan... mulai dari
>MSQ
>MFQ
>MHQ
>PILDARA
>NASYID
>MTQ
>KALIGRAFI....
makasih dah wat semua atlit2 yang dah ikut...n pastinya big thanks to Allah swt. n wat para PJ,na yang dah mempersiapkan segala keperluan atlit2nya....
nak gmpm juga da yg melenceng ney bukan ikut lomba keagamaan....haha ^^v dye malah ikut lomba yang laen.....
hoohoo...
the last.. thank wat semuanya.................
wassalam....
hai sobat smua...^^ gimana kabarnya ney??? mga qta semua dalam keadaan sehat wal'afiat...amiin..
sekarang dah masuk bulan februari hmm gak kerasa yah awal tahun ini dah dilalui.. satu bulan di januari tuh banyak banget ceritanya... diantaranye da PMD 1 pas tanggal 22 mpe tanggal 23 januari 2011... wuih acaranya tuh seru tentunya... da materi yang bermanfaat, asyik, and menyenangkan. ney liat ja muka-muka.na...
wah seru yah gamenya.................................. selamet yah yg dah lulus di PMD 1, moga tetep amanah di GMPM.. Allahu Akbar...^^9
da lagi ney acara yang seru... TCA (Temu civitas Akademika) seantero UPI PGSD... da lomba-lomba yang buanyak banget... diantaranya, pastinya ada tentang keagamaan... mulai dari
>MSQ
>MFQ
>MHQ
>PILDARA
>NASYID
>MTQ
>KALIGRAFI....
makasih dah wat semua atlit2 yang dah ikut...n pastinya big thanks to Allah swt. n wat para PJ,na yang dah mempersiapkan segala keperluan atlit2nya....
nak gmpm juga da yg melenceng ney bukan ikut lomba keagamaan....haha ^^v dye malah ikut lomba yang laen.....
hoohoo...
the last.. thank wat semuanya.................
wassalam....
Selasa, 04 Januari 2011
GMPM 2010-2011
PENGURUS GMPM 2010-2011
Ketua
Achmad Zaki Zamzami
Sekretaris
Arif Munandar
Bendahara
Imas Masitoh
Dep.Kaderisasi Dep.Kostrad Dep. Pendidikan
Sehabudin Maya A. Faturohman
Marfamah Dessy Triwulansari S Dewi Nancy
St Fatimah Desi Irmayanti Dede Mulyadi
Fadhli Dzhil Ikrom
Erna Enzelina
Dep. Soskem Dep. DPM Dep.Keputrian
Haerul Alwan Ma'mun Dian M
Husnul Khotimah Umar Ma'ruf Winda Amelia
Dede S. Khaerul Sholeh Halimatussa'diah
Nurul Rafaela
Dep. Kewirausahaan
Siti Amiroh
Een Unaenah
Gina
BSO Tutorial
Ketua : Ahlani
Sekretaris : St.Sarah
Bendahara : Irma CN
Anggota : Erlan
Hana C
Iis Yurmiyati
Popy
Ririn
Umdatul Hasanah
Yayat
Intan
BSO Baqi
Ketua : Lilis Q.
Sekretaris : Fitri A.
Bendahara : Wawah C.A
Anggota : Evi Sofiyani
Maria Indriani
Mulyanti
Saeful Umar
Ahmad Toha
Ahmad Toha
"Saudaraku, saat amanah menuntut tanggung jawab... tanggung jawab menuntut amalan.... amalan menuntut perjuangan... perjuangan menuntut pengorbanan.... pengorbanan menuntut keikhlasan... Maka siapkanlah!!!!!! Militansi tanpa baras!!!
Allahu Akbar ^^9
Cooming soon...........
cooming soon..................
assalamu'alaikum
hai sobat muslim semua....
pa kabar hari ini?......... moga tetep sehat dan semangat selalu...
da sebuah pengumuman ney wat para mahasiswa n mahasiswi UPI kampus serang....
GMPM mau mengadakan PMD I yaitu Pelatihan Management Dakwah.. nie ney serangkaian acaranya pengkaderan GMPM, so... yang udah ikutan TRADISI kemaren, ikutan lagi yuk... acaranya dijamin lebih seru, lebih fun, tapi mengandung arti tentunya...^^
terus gimana yang belum ikutan TRADISI kemaren??? jangan khawatir......... PMD membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapa jah yang mau belajar bareng sama-sama.... pa lagi atmosfir acara LDK kampus tuh pasti sarat makna dan sambil menimba ilmu, qta juga bisa bermuhasabah diri.....
so,,, tunggu apalagi yuk ikutan...
pendaftarannya cuma Rp. 25.000-, tempatnya di Cilegon*
mu info lebih lanjut.....
tinggal datang ke sekretariatan GMPM di jalan Batok Bali Ciracas, UPI Kampus Serang...
to just ask to fb: GMPM UPiserang
ditunggu ya.. partisipasinya^^
wassalamu'alaikum....
*fleksibel....
bid.Kaderisasi
assalamu'alaikum
hai sobat muslim semua....
pa kabar hari ini?......... moga tetep sehat dan semangat selalu...
da sebuah pengumuman ney wat para mahasiswa n mahasiswi UPI kampus serang....
GMPM mau mengadakan PMD I yaitu Pelatihan Management Dakwah.. nie ney serangkaian acaranya pengkaderan GMPM, so... yang udah ikutan TRADISI kemaren, ikutan lagi yuk... acaranya dijamin lebih seru, lebih fun, tapi mengandung arti tentunya...^^
terus gimana yang belum ikutan TRADISI kemaren??? jangan khawatir......... PMD membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapa jah yang mau belajar bareng sama-sama.... pa lagi atmosfir acara LDK kampus tuh pasti sarat makna dan sambil menimba ilmu, qta juga bisa bermuhasabah diri.....
so,,, tunggu apalagi yuk ikutan...
pendaftarannya cuma Rp. 25.000-, tempatnya di Cilegon*
mu info lebih lanjut.....
tinggal datang ke sekretariatan GMPM di jalan Batok Bali Ciracas, UPI Kampus Serang...
to just ask to fb: GMPM UPiserang
ditunggu ya.. partisipasinya^^
wassalamu'alaikum....
*fleksibel....
bid.Kaderisasi
Kaum Muslimin Waspadalah
PENTING !!! Mohon agar pesan ini dapat disebarkan kepada seluruh Saudaramu se-iman !!!
Jika tidak...maka seluruh Muslim di dunia bisa saja mendapatkan informasi yang salah dan keliru tentang Islam, untuk itu dimohon agar dapat menyebarkan pesan ini segera setelah membacanya.
Waspadalah terhadap website di bawah ini
Situs-situs tersebut telah sengaja dibuat olehkaum Yahudi yang senantiasa gencarmenyebarkan pemahaman yang salah tentang Al-Qur'an, Hadits dan Islam. Sekali lagi, mohon agar pesan ini dapat disebarkan kepada seluruh saudara Muslim di dunia
Lembaga Dakwah Kampus (LDK)
Dakwah Kampus merupakan salah satu bagian dari dakwah secara umum. Dakwah kampus mengkhususnya dirinya untuk bergerak dalam sebuah miniatur masyarakat kecil yang bernama masyarakat kampus. Oleh karena itu dalam menjalankan roda dakwahnya, Dakwah Kampus memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan dakwah di wilayah lain. Dengan kata lain, pola Dakwah Kampus tentu akan berbeda dengan pola di Dakwah Remaja Masjid, atau pada Dakwah di Perkantoran, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebelum kita lebih jauh membicarakan mengenai bagaimana rincian pola dan strategi dakwah kampus, maka perlu kita pahami dahulu apa definisi dasar dari Dakwah Kampus.
Definisi Dakwah Kampus
Dakwah Kampus adalah dakwah ammah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. Civitas akademika yang dimaksud di sini adalah para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi. Civitas akademika merupakan bagian dari masyarakat kampus yang hidup dengan peraturan, ada peraturan kampus (rektorat), peraturan ormawa, dan sebagainya. Sehingga untuk dapat mengejewantahkan dakwah ammah harokatudz dzahirah tersebut, maka prinsip 'legal', 'formal', dan 'wajar' dalam kacamata civitas akademika, menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Dakwah Kampus. Salah satu derivasi dari hal ini, maka biasanya sebuah lembaga dakwah kampus perlu membuat AD/ART sebagai bagian dari bentuk legalisasi organisasi dakwah kampus di sebuah perguruan tinggi.
Untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). ADK adalah kader dakwah dan tarbiyah yang memiliki peran dalam Dakwah Kampus. Peran yang dilakukan bisa berupa sebagai pengurus lembaga dakwah kampus, murobbi kampus, dan sebagainya. Peran ADK ini bisa dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.
Sebagaimana telah diungkapkan di atas, dalam pergerakannya dakwah kampus memiliki medan tersendiri. Medan pergerakan dakwah kampus adalah area di mana dakwah kampus mengaktualisasikan diri. Medan Dakwah Kampus yaitu lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap dakwah kampus, meliputi manusia-manusianya (para civitas akademika, pejabat dan pegawai kampus, alumni), sarana-sarananya (lembaga kemahasiswaan, institusi perguruan tinggi, institusi pemerintah terkait, institusi kerjasama antar perguruan tinggi), dan aturan main yang berlaku (peraturan perundangan terkait, kurikulum dan sistem administrasi perguruan tingggi), serta sarana dan prasarana kampus.
Dan yang terakhir dalam kajian ini adalah tujuan Dakwah Kampus, terakhir dan sangat penting. Karena tujuan dakwah kampus harus selalu menjadi satu hal yang terus diingat oleh para ADK, agar mereka tahu ke mana arah dakwah kampus berjalan.
Tujuan Dakwah Kampus
Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan. Mengenai tahapan dakwah kampus ini perlu kajian tersendiri.
Sasaran Dakwah Kampus
Untuk mencapai tujuan di atas, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain:
1. Terbentuknya bi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas. Hal ini berarti dakwah kampus memerlukan sebuah lingkungan kecil yang senantiasa dapat terus men-charge ruhiyah para ADK di tengah-tengah aktivitasnya di kampus. Sarana untuk itu adalah tarbiyah yang berkesinambungan untuk para ADK dan yang didakwahkannya.
2. Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin. Sarana-sarana syiar untuk ini cukup banyak, misalnya majalah, perpustakaan, peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Barangkali bisa kita diskusikan mengenai hal ini dalam kajian tersendiri.
3. Terbentuknya kesinambungan barisan pendukung dakwah. Untuk itu, tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan mahasiswa harus dipastikan berjalan. Ini membutuhkan sebuah lajnah yang dapat mengawasi itu dalam jangka panjang.
4. Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrutmen dakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.
Demikian kajian singkat mengenai definisi dasar dan tujuan dakwah kampus. Semoga dapat menjaga orisinalitas dakwah kampus di tengah-tengah proses perubahan yang semakin cepat. (hdn)
kutipan dari
http://www.hudzaifah.org/Article465.phtml
Definisi Dakwah Kampus
Dakwah Kampus adalah dakwah ammah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. Civitas akademika yang dimaksud di sini adalah para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi. Civitas akademika merupakan bagian dari masyarakat kampus yang hidup dengan peraturan, ada peraturan kampus (rektorat), peraturan ormawa, dan sebagainya. Sehingga untuk dapat mengejewantahkan dakwah ammah harokatudz dzahirah tersebut, maka prinsip 'legal', 'formal', dan 'wajar' dalam kacamata civitas akademika, menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Dakwah Kampus. Salah satu derivasi dari hal ini, maka biasanya sebuah lembaga dakwah kampus perlu membuat AD/ART sebagai bagian dari bentuk legalisasi organisasi dakwah kampus di sebuah perguruan tinggi.
Untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). ADK adalah kader dakwah dan tarbiyah yang memiliki peran dalam Dakwah Kampus. Peran yang dilakukan bisa berupa sebagai pengurus lembaga dakwah kampus, murobbi kampus, dan sebagainya. Peran ADK ini bisa dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.
Sebagaimana telah diungkapkan di atas, dalam pergerakannya dakwah kampus memiliki medan tersendiri. Medan pergerakan dakwah kampus adalah area di mana dakwah kampus mengaktualisasikan diri. Medan Dakwah Kampus yaitu lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap dakwah kampus, meliputi manusia-manusianya (para civitas akademika, pejabat dan pegawai kampus, alumni), sarana-sarananya (lembaga kemahasiswaan, institusi perguruan tinggi, institusi pemerintah terkait, institusi kerjasama antar perguruan tinggi), dan aturan main yang berlaku (peraturan perundangan terkait, kurikulum dan sistem administrasi perguruan tingggi), serta sarana dan prasarana kampus.
Dan yang terakhir dalam kajian ini adalah tujuan Dakwah Kampus, terakhir dan sangat penting. Karena tujuan dakwah kampus harus selalu menjadi satu hal yang terus diingat oleh para ADK, agar mereka tahu ke mana arah dakwah kampus berjalan.
Tujuan Dakwah Kampus
Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan. Mengenai tahapan dakwah kampus ini perlu kajian tersendiri.
Sasaran Dakwah Kampus
Untuk mencapai tujuan di atas, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain:
1. Terbentuknya bi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas. Hal ini berarti dakwah kampus memerlukan sebuah lingkungan kecil yang senantiasa dapat terus men-charge ruhiyah para ADK di tengah-tengah aktivitasnya di kampus. Sarana untuk itu adalah tarbiyah yang berkesinambungan untuk para ADK dan yang didakwahkannya.
2. Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin. Sarana-sarana syiar untuk ini cukup banyak, misalnya majalah, perpustakaan, peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Barangkali bisa kita diskusikan mengenai hal ini dalam kajian tersendiri.
3. Terbentuknya kesinambungan barisan pendukung dakwah. Untuk itu, tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan mahasiswa harus dipastikan berjalan. Ini membutuhkan sebuah lajnah yang dapat mengawasi itu dalam jangka panjang.
4. Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrutmen dakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.
Demikian kajian singkat mengenai definisi dasar dan tujuan dakwah kampus. Semoga dapat menjaga orisinalitas dakwah kampus di tengah-tengah proses perubahan yang semakin cepat. (hdn)
kutipan dari
http://www.hudzaifah.org/Article465.phtml
Langganan:
Postingan (Atom)











