Biarkanlah aku sendiri.
Berdiri dan
berjalan membawa nyanyian milikku sendiri. Melangkahkan kaki mengikuti arah
yang ditunjukan hati kecilku dalam sebuah papan petunjuk kehendak hati.
Aku ingin sendiri!
Tanpa ada suara-suara dari jiwa
lain yang menyeruakkan argumen-argumen yang sama sekali tak sama dengan hatiku.
Yang menyusupi Daun telingaku lalu menggetarkan rambut-rambut syaraf dan rumah
siput di dalamnya. Terus mendesak. Melaju bersama aliran darahku lalu meracuni
pikiranku. Mengajaku mengikuti jejak-jejak yang terlontar dan mengekangku. Aku
ingin sendiri menjalani hidupku. Meraih mimpiku dan memilih tempat kerinduanku
berlabuh. Aku hanya ingin bersamanya. Yang selama ini setia menemani
malam-malamku bercahaya temaram. Dengan sinarnya yang kecil namun jelas dan
kuat menembus gulita palung hatiku. Menopang sisa kekokohanku.
“Apa yang kau risaukan gadisku?
Sementara jiwa mudamu seharusnya berada disana. Di tengah pesta musik dan
dansa, di dunia kebebasan yang hampir kehilangan batas. Dan berada disandaran
kokoh kekasih jiwa.” Tiba-tiba suara yang kunantikan
hadir dari persembunyian arakan mega hitam. Ia ada namun berjarak jauh tapi
terasa dekat. “Lalu saling bercerita merangkai untaian kata-kata mutiara untuk
memuji keindahan cinta.” Ia bercerita padaku dengan nada penuh sindiran.
“Apakah semua gadis harus seperti
itu? Berada ditengah pesta music dan dansa. Bermain dengan gemerlap sirkus
cinta. Memiliki seorang kekasih yang tampan, gagah, lalu memeluknya dengan
erat. Bermanja sampai waktu habis terbuang tiada makna. Lalu salin bercumbu,
saling merayu, saling…”
“Ya, saling merindukan. Tatapi
mengapa kau berada disini? Dalam temaram dan menyenandungkan lagu-lagu
kesepian. Atau mungkin kamu baru saja putus dengan pujaan hatimu karena ia
mengkhianatimu. Menggandeng cinta yang lain di hadapan kedua matamu.”
Kini dalam jarak yang sama – sama
jauh tetapi terasa dekat, namun nadanya kian tinggi. Menyudutkanku. “Apa
maksudmu dengan semua ini? Prasangkamu adalah dusta. Aku tidak putus. Aku tidak
dikhianati. Aku berada disini karena aku ingin sendiri. Menyendiri.” Kilahku
kesal. Dongkol!
Ia hanya tersenyum sinis. “Hanya
ingin sendiri. Untuk apa? Ia menatapku tajam dengan sebuah getaran. ‘untuk
memaknai kesendirian,” jawabku singkat. Ia mengerutkan dahi dengan tangan
berada didepan dada lalu mengeleng-gelengkan kepalanya. “Bagiku kesendirian
adalah kebebasan jiwa dalam melayangkan angan-angan. Kesendirian adalah
kesenduan dan kedamaian yang besrsatu dalam warna biru yang temaram. Karena
itulah kesendirian bagiku adalah keindahan,” jawabku dengan tenang.
“sebuah keindahan? Apakah dalam
temaram ada keindahan? Aku kira itu hanya kata-kata yang melantun dengan nada
paksaan. Sebagai lagu penggembira bagi jiwamu yang kesepian,” ucapannya sangat
menjengkelkan. Aku mulai membencinya.
“mungkin bagi orang lain hal itu
benar adanya. Dulu, aku pun berpikir sama pikirnya dengan kata-katamu itu. Tapi
setelah kualami, kurasakan kesendirian adalah kenikmatan. Karena didalamnya aku
mendapatkan kejujuran. Tidak ada ocehan-ocehan rayuan yang tidak berujung. Atau
kemesraan yang menyesatkan. Dulu aku membencinya. Tapi kini aku mulai mencintai
kesendirian.”
“Lalu…” lanjutnya bertanya.
Sepertinya ia ingin menyerangku dengan seribu pertanyaan yang memojokkanku.
“Sebentar. Sedari tadi kamu terus yang bertanya. Lalu bagaimana pendapatmu
tentang kesendirian? Kamu mencibirku kesendirianku. Sedangkan kulihat kamu pun
selalu sendiri. Padahal yang aku tahu kamu berada di dunia ini tidak
sendirian,” kini aku berbalik bertanya. Aku tunggu reaksinya beberapa saat.
Kupandangi sinarnya yang kecil. Kuhitung jaraknya berdiri dari hadapanku.
Jauh tetapi terasa dekat. Ada getaran
selain gelombang dingin yang menembus tulangku. Aku mulai menggigil tetapi
akupun merasakan kehangatan yang telah lama tidak menyapaku, menyelimuti diriku
dari kebekuan. Entah apa itu. Senja telah pergi menjauh. Apakah mungkin ia
hanya menyisakan hangatnya lembayung dan
menyelimuti ragaku ini? Tapi malam kian beranjak mulai tua, mulai meniti
langkah pergi.
“Ha..ha..ha.. kamu membalasku ya?”
tiba-tiba suaranya menggema dalam tembok gelap malam. Membisingkan suasana
tenang. “Tidak aku hanya bertanya bagaimana menurutmu tentang kesendirian?”
jawabku membela diri. “kesendirian? Bagiku kesendirian adalah keberadaanku kini.”
Ia tersenyum padaku, mungkin senyum kemenangan. Apakah aku kalah? ”Hanya itu?”
aku semakin penasaran. Ia mengangguk pelan . santai. “Aku tak percaya,”
sanggahku. “Berarti sebenarnya kamu sama denganku. Menyendiri dan mengasingkan
diri dari lalu lalang kehidupan asmara. Dan kamu pun menikmati keindahannya
bukan?” Aku coba menggali menggali rahasia
hatinya. Sampai kedalam. Ke sebuah naungan kebeningan jiwa. “Tidak. Aku berbeda
denganmu. Kamu saja yang menyamakan diri,” jawabnya getir. Singkat dan cukup
tepat mengenai sasaran hatiku. “menyamakan diri? Maksudmu menyamakan diri
denganmu? Aku seorang plagiat menurutmu? Aku tak pernah berbuat sesuatu itu.
Apalagi memilih profesi sebagai pembajak hak cipta orang lain. Haram!” kilahku
dengan nada kesal. Dia tetap diam. Pandangannya kian menunduk. Meredup. Seperti
ada sesuatu. Ada beban berat. “Ha..ha… Nyatanya memang kamu memang menikmati
kesendirian. Kamu kesepian!” aku tertawa puas. Puas sekali. Suaraku
membangunkan alam, menyelami malam. “Lalu apa bedanya antara kamu dan aku kini?
Nyatanya kita sama. Sendiri dan kesepian, Bung!” lanjutku menyerangnya. Aku
merasa senang!
Alam menjadi hening seketika. Angin
hanya berbisik pelan pada ranting-ranting pepohonan dengan sekali-kali menghasilkan
gesekan biola malam. Dari jauh terdengar samar-samar alunan music dan irama
dansa dari sebuah pesta didunia kebebasan yang hampir tak terbatas. Angin yang
rupanya menggiringnya sampai ke sini. Ke tempat ini. Tempat aku dan dia.
Aku terdiam dan dia membungkam.
“Kenapa diam? Kamu marah, ya.
Tersinggung dengan ucapanku?” ku coba membuka suara. Memecahkan kebisuan.
“Tidak. Aku tidak sendirian.” Kini ia pun terut bersuara. “Aku memiliki
seseorang yang selalu setia menungguku setiap malam. Menatapku lekat-lekat lalu
ia menyenandungku lagu kemesraan khusus untukku. Karena itu aku tak pernah
merasa sendirian dan kesepian.” Ia lalu menatapku tajam dengan sebuah
gelombang. Sebuah getaran halus. “Kamu memang berbeda denganku. Mungkin aku
termasuk orang aneh dan kurang beruntung. Selalu sendiri dan terkucil. Kamu
beruntung memiliki cintanya. Sedangkan aku…”
Nafasku mulai tersengal. Aku malu.
Ternyata batinku mulai mengaku kebenaran kata-katanya. Beruntung malam menutupi
raut wajah merahku dengan tirainya yang hitam. “Kamu salah. Kamu juga sama
seperti aku. Sama seperti mereka, muda-mudi yang sedang berpesta itu. Kamu
memiliki kerinduan yang selalu setia memandangmu. Menyayangimu sepenuh jiwa.”
Suaranya kini merendah, lembut. Sementara gemerlap music membahana dari dunia
penuh kemilau itu terus saja terlantun. Ada hentakan-hentakan yang membuat
telingaku seperti meledak, bersama amarah yang kian memuncak. Kepalaku pusing.
Aku ingin hening.
Tetapi getaran itu semakin kuat
kurasakan. Mulai menembus epidermisku, melangkah menjauh ke aliran darah dan
bergejolak di dalam hati, bagai magma yang terus bernafas dalam perut bumi.
“Apakah ada? Kau hanya menghiburku. Kamu pembohong!”
“sikap itulah yang membuatmu merasa
selalu sendiri. Hatimu angkuh. Cobalah kau renungi, rasakan keberadaannya.
Apakah nuranimu tak pernah tersentuh oleh sinar ketulusannya?” ucapnya dengan
suara yang tak kalah lembut. Aku terdiam. Sementara gerimis perlahan menetes
dari sudut-sudut mataku. Angin membelaiku. Aku kedinginan, tetapi aku merasakan
kehangatan pula. “Benarkah aku tak sendirian?” Tanyaku ragu, namun mengandung
beratus harapan. Bayangan seorang pangeran muncul di benakku. Siapakah ia? “ya,
kamu tak sendirian dia sangat menyayangimu gengan segenap hati. Engkaulah
kekasih hatinya.” Matanya berbinar mencoba meyakinkan. “Tapi mengapa aku tak
pernah tahu. Mengapa dia tak menyatakannya?” Aku mulai merasakan sesuatu
lembut, hangat, indah. “Karena bukankah cinta tak bisa di ucapkan secara utuh.
Dirimu sendiri menuangkan cinta dalm bentuk dan lambing-lambang cinta. Coba
kenali jiwamu dan cari kejujuran di dalamnya. Aku ataupun mereka tak
menjawabnya. Karena ya… hanya kaulah pemilik jiwamu itu.” Kata-katanya bijak.
Kuresapi segala ucapannya. Aku
mulai tersentuh. Air mataku kini telah menyatu dengan alam bersama angina,
dingin, dan kehangatan. “Apakah dia seorang penakut? Pengecut” ucapanku
menantang, ingin kuungkap segalanya. Apakah mungkin? Aku penasaran! “Tidak!
Tolong jangan katakana itu.” Mukanya tiba-tiba mendung.walaupun tersembunyi
dibalik selimut gelap malam. Tapi sinarnya yang kecil dan temaram memantulkan
bayangan itu. Mendung.
“Lalu…” “Cinta akan selalu bersama
manusia yang mengagungkan cinta karena keagungannya”’ jawabnya sambil
tersenyum, manis sekali! Sunggingan termanis yang pernah hadir di bola mataku.
“Kagungan cinta tidaklah dapat diungkap dengan kata-kata. Lelah rahasia
kehidupan yang hanya di jamah hati yang memiliki kepekaan nurani. Merasa dan
dirasakan. Menyayangi dan disayangi,” panjang lebar ia menjelaskan semuanya
kepadaku. Tapi, sungguh aku tak juga mengerti. Aku sendiri! Apakah aku juga
memiliki cinta? Batinku lirih bertanya. “Ah, pandai benar kamu mendefinisikan
cinta! Kata-katamu membuatku semakin merasa sendiri, dan tersudut. Jika benar
cinta itu ada, kerinduan itu nyata lalu dimana ia bertempat tinggal dan
menghamparkan kebesarannya?” ku ajukan pertanyaan yang telah lama ingin ku
muntahkan ini. Aku telah muak.
Sejenak semua tampak senyap. Hanya
orchestra malam yang berdendang pelan sekali. Suara pesta dari dunia gemerlap
disana, di tempat yang tak terengkuh hatiku itupun telah lenyap. Menghilang.
Hening yang aku rindukan datang. “Ia ada di hatimu. Akulah ia. Yang kau impikan
selama ini.” “Kamu…?!? “Ya.., keteguhanmu menjaga diri dari pesta itu adalah
cinta. Kesendirianmu mencari makna adalah kesyahduan yang hakiki, ia tak pernah
mati.” Suaranya kian meredup, seiring pijakannya yang kian menjauh. Aku merasa
malu. Benarkah aku kokoh akan keberadaanku, terhadap pilihanku. Aku tetap
sendiri. Apakah benar aku mampu sendiri? “Jagalah dirimu dan selamatkan jiwaku.
Aku akan datang nanti jika waktunya telah tiba,” kini lambaian tangannya yang
dapat aku saksikan. Semakin jauh…semakin kecil… dan kemudian hilang.
Aku sendiri bersama tangisanku,
dengan kegelisahanku. “Kenapa kau tinggalkan aku! Membiarkanku sendiri ditengah
kegelapan ini. Kamu yang kau pilih. Kembalilah!!” ku teriakan pada angkasa.
Namu tak satupun ada yang menjawab. Semua sendiri dengan kelanggengannya.
Sunyi…sepi.. senyap..
Udara semakin dingin. Malam telah benar-benar
tua. Sementara angin masih sajaterus berbisik dengan alam, ranting, dan
pepohonan. Di penghujung malam semuanya terjalin. Kurekam begitu erat dalam
ingatanku hingga kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar