Ahlan Wa Sahlan ^^


Click here for Myspace Layouts

Senin, 15 April 2013

Dipenghujung Malam Seorang Muslimah


    Biarkanlah aku sendiri. 
       Berdiri dan berjalan membawa nyanyian milikku sendiri. Melangkahkan kaki mengikuti arah yang ditunjukan hati kecilku dalam sebuah papan petunjuk kehendak hati.
    Aku ingin sendiri!
          Tanpa ada suara-suara dari jiwa lain yang menyeruakkan argumen-argumen yang sama sekali tak sama dengan hatiku. Yang menyusupi Daun telingaku lalu menggetarkan rambut-rambut syaraf dan rumah siput di dalamnya. Terus mendesak. Melaju bersama aliran darahku lalu meracuni pikiranku. Mengajaku mengikuti jejak-jejak yang terlontar dan mengekangku. Aku ingin sendiri menjalani hidupku. Meraih mimpiku dan memilih tempat kerinduanku berlabuh. Aku hanya ingin bersamanya. Yang selama ini setia menemani malam-malamku bercahaya temaram. Dengan sinarnya yang kecil namun jelas dan kuat menembus gulita palung hatiku. Menopang sisa kekokohanku.
       “Apa yang kau risaukan gadisku? Sementara jiwa mudamu seharusnya berada disana. Di tengah pesta musik dan dansa, di dunia kebebasan yang hampir kehilangan batas. Dan berada disandaran kokoh kekasih jiwa.” Tiba-tiba suara yang kunantikan hadir dari persembunyian arakan mega hitam. Ia ada namun berjarak jauh tapi terasa dekat. “Lalu saling bercerita merangkai untaian kata-kata mutiara untuk memuji keindahan cinta.” Ia bercerita padaku dengan nada penuh sindiran.
        “Apakah semua gadis harus seperti itu? Berada ditengah pesta music dan dansa. Bermain dengan gemerlap sirkus cinta. Memiliki seorang kekasih yang tampan, gagah, lalu memeluknya dengan erat. Bermanja sampai waktu habis terbuang tiada makna. Lalu salin bercumbu, saling merayu, saling…”
“Ya, saling merindukan. Tatapi mengapa kau berada disini? Dalam temaram dan menyenandungkan lagu-lagu kesepian. Atau mungkin kamu baru saja putus dengan pujaan hatimu karena ia mengkhianatimu. Menggandeng cinta yang lain di hadapan kedua matamu.”
      Kini dalam jarak yang sama – sama jauh tetapi terasa dekat, namun nadanya kian tinggi. Menyudutkanku. “Apa maksudmu dengan semua ini? Prasangkamu adalah dusta. Aku tidak putus. Aku tidak dikhianati. Aku berada disini karena aku ingin sendiri. Menyendiri.” Kilahku kesal. Dongkol!
Ia hanya tersenyum sinis. “Hanya ingin sendiri. Untuk apa? Ia menatapku tajam dengan sebuah getaran. ‘untuk memaknai kesendirian,” jawabku singkat. Ia mengerutkan dahi dengan tangan berada didepan dada lalu mengeleng-gelengkan kepalanya. “Bagiku kesendirian adalah kebebasan jiwa dalam melayangkan angan-angan. Kesendirian adalah kesenduan dan kedamaian yang besrsatu dalam warna biru yang temaram. Karena itulah kesendirian bagiku adalah keindahan,” jawabku dengan tenang.
        “sebuah keindahan? Apakah dalam temaram ada keindahan? Aku kira itu hanya kata-kata yang melantun dengan nada paksaan. Sebagai lagu penggembira bagi jiwamu yang kesepian,” ucapannya sangat menjengkelkan. Aku mulai membencinya.
            “mungkin bagi orang lain hal itu benar adanya. Dulu, aku pun berpikir sama pikirnya dengan kata-katamu itu. Tapi setelah kualami, kurasakan kesendirian adalah kenikmatan. Karena didalamnya aku mendapatkan kejujuran. Tidak ada ocehan-ocehan rayuan yang tidak berujung. Atau kemesraan yang menyesatkan. Dulu aku membencinya. Tapi kini aku mulai mencintai kesendirian.”
          “Lalu…” lanjutnya bertanya. Sepertinya ia ingin menyerangku dengan seribu pertanyaan yang memojokkanku. “Sebentar. Sedari tadi kamu terus yang bertanya. Lalu bagaimana pendapatmu tentang kesendirian? Kamu mencibirku kesendirianku. Sedangkan kulihat kamu pun selalu sendiri. Padahal yang aku tahu kamu berada di dunia ini tidak sendirian,” kini aku berbalik bertanya. Aku tunggu reaksinya beberapa saat. Kupandangi sinarnya yang kecil. Kuhitung jaraknya berdiri dari hadapanku. Jauh  tetapi terasa dekat. Ada getaran selain gelombang dingin yang menembus tulangku. Aku mulai menggigil tetapi akupun merasakan kehangatan yang telah lama tidak menyapaku, menyelimuti diriku dari kebekuan. Entah apa itu. Senja telah pergi menjauh. Apakah mungkin ia hanya menyisakan hangatnya lembayung  dan menyelimuti ragaku ini? Tapi malam kian beranjak mulai tua, mulai meniti langkah pergi.
          “Ha..ha..ha.. kamu membalasku ya?” tiba-tiba suaranya menggema dalam tembok gelap malam. Membisingkan suasana tenang. “Tidak aku hanya bertanya bagaimana menurutmu tentang kesendirian?” jawabku membela diri. “kesendirian? Bagiku kesendirian adalah keberadaanku kini.” Ia tersenyum padaku, mungkin senyum kemenangan. Apakah aku kalah? ”Hanya itu?” aku semakin penasaran. Ia mengangguk pelan . santai. “Aku tak percaya,” sanggahku. “Berarti sebenarnya kamu sama denganku. Menyendiri dan mengasingkan diri dari lalu lalang kehidupan asmara. Dan kamu pun menikmati keindahannya bukan?” Aku coba menggali menggali rahasia hatinya. Sampai kedalam. Ke sebuah naungan kebeningan jiwa. “Tidak. Aku berbeda denganmu. Kamu saja yang menyamakan diri,” jawabnya getir. Singkat dan cukup tepat mengenai sasaran hatiku. “menyamakan diri? Maksudmu menyamakan diri denganmu? Aku seorang plagiat menurutmu? Aku tak pernah berbuat sesuatu itu. Apalagi memilih profesi sebagai pembajak hak cipta orang lain. Haram!” kilahku dengan nada kesal. Dia tetap diam. Pandangannya kian menunduk. Meredup. Seperti ada sesuatu. Ada beban berat. “Ha..ha… Nyatanya memang kamu memang menikmati kesendirian. Kamu kesepian!” aku tertawa puas. Puas sekali. Suaraku membangunkan alam, menyelami malam. “Lalu apa bedanya antara kamu dan aku kini? Nyatanya kita sama. Sendiri dan kesepian, Bung!” lanjutku menyerangnya. Aku merasa senang!
           Alam menjadi hening seketika. Angin hanya berbisik pelan pada ranting-ranting pepohonan dengan sekali-kali menghasilkan gesekan biola malam. Dari jauh terdengar samar-samar alunan music dan irama dansa dari sebuah pesta didunia kebebasan yang hampir tak terbatas. Angin yang rupanya menggiringnya sampai ke sini. Ke tempat ini. Tempat aku dan dia. Aku terdiam dan dia membungkam.
“Kenapa diam? Kamu marah, ya. Tersinggung dengan ucapanku?” ku coba membuka suara. Memecahkan kebisuan. “Tidak. Aku tidak sendirian.” Kini ia pun terut bersuara. “Aku memiliki seseorang yang selalu setia menungguku setiap malam. Menatapku lekat-lekat lalu ia menyenandungku lagu kemesraan khusus untukku. Karena itu aku tak pernah merasa sendirian dan kesepian.” Ia lalu menatapku tajam dengan sebuah gelombang. Sebuah getaran halus. “Kamu memang berbeda denganku. Mungkin aku termasuk orang aneh dan kurang beruntung. Selalu sendiri dan terkucil. Kamu beruntung memiliki cintanya. Sedangkan aku…”
Nafasku mulai tersengal. Aku malu. Ternyata batinku mulai mengaku kebenaran kata-katanya. Beruntung malam menutupi raut wajah merahku dengan tirainya yang hitam. “Kamu salah. Kamu juga sama seperti aku. Sama seperti mereka, muda-mudi yang sedang berpesta itu. Kamu memiliki kerinduan yang selalu setia memandangmu. Menyayangimu sepenuh jiwa.” Suaranya kini merendah, lembut. Sementara gemerlap music membahana dari dunia penuh kemilau itu terus saja terlantun. Ada hentakan-hentakan yang membuat telingaku seperti meledak, bersama amarah yang kian memuncak. Kepalaku pusing. Aku ingin hening.
Tetapi getaran itu semakin kuat kurasakan. Mulai menembus epidermisku, melangkah menjauh ke aliran darah dan bergejolak di dalam hati, bagai magma yang terus bernafas dalam perut bumi. “Apakah ada? Kau hanya menghiburku. Kamu pembohong!”
            “sikap itulah yang membuatmu merasa selalu sendiri. Hatimu angkuh. Cobalah kau renungi, rasakan keberadaannya. Apakah nuranimu tak pernah tersentuh oleh sinar ketulusannya?” ucapnya dengan suara yang tak kalah lembut. Aku terdiam. Sementara gerimis perlahan menetes dari sudut-sudut mataku. Angin membelaiku. Aku kedinginan, tetapi aku merasakan kehangatan pula. “Benarkah aku tak sendirian?” Tanyaku ragu, namun mengandung beratus harapan. Bayangan seorang pangeran muncul di benakku. Siapakah ia? “ya, kamu tak sendirian dia sangat menyayangimu gengan segenap hati. Engkaulah kekasih hatinya.” Matanya berbinar mencoba meyakinkan. “Tapi mengapa aku tak pernah tahu. Mengapa dia tak menyatakannya?” Aku mulai merasakan sesuatu lembut, hangat, indah. “Karena bukankah cinta tak bisa di ucapkan secara utuh. Dirimu sendiri menuangkan cinta dalm bentuk dan lambing-lambang cinta. Coba kenali jiwamu dan cari kejujuran di dalamnya. Aku ataupun mereka tak menjawabnya. Karena ya… hanya kaulah pemilik jiwamu itu.” Kata-katanya bijak.
           Kuresapi segala ucapannya. Aku mulai tersentuh. Air mataku kini telah menyatu dengan alam bersama angina, dingin, dan kehangatan. “Apakah dia seorang penakut? Pengecut” ucapanku menantang, ingin kuungkap segalanya. Apakah mungkin? Aku penasaran! “Tidak! Tolong jangan katakana itu.” Mukanya tiba-tiba mendung.walaupun tersembunyi dibalik selimut gelap malam. Tapi sinarnya yang kecil dan temaram memantulkan bayangan itu. Mendung.
             “Lalu…” “Cinta akan selalu bersama manusia yang mengagungkan cinta karena keagungannya”’ jawabnya sambil tersenyum, manis sekali! Sunggingan termanis yang pernah hadir di bola mataku. “Kagungan cinta tidaklah dapat diungkap dengan kata-kata. Lelah rahasia kehidupan yang hanya di jamah hati yang memiliki kepekaan nurani. Merasa dan dirasakan. Menyayangi dan disayangi,” panjang lebar ia menjelaskan semuanya kepadaku. Tapi, sungguh aku tak juga mengerti. Aku sendiri! Apakah aku juga memiliki cinta? Batinku lirih bertanya. “Ah, pandai benar kamu mendefinisikan cinta! Kata-katamu membuatku semakin merasa sendiri, dan tersudut. Jika benar cinta itu ada, kerinduan itu nyata lalu dimana ia bertempat tinggal dan menghamparkan kebesarannya?” ku ajukan pertanyaan yang telah lama ingin ku muntahkan ini. Aku telah muak.
              Sejenak semua tampak senyap. Hanya orchestra malam yang berdendang pelan sekali. Suara pesta dari dunia gemerlap disana, di tempat yang tak terengkuh hatiku itupun telah lenyap. Menghilang. Hening yang aku rindukan datang. “Ia ada di hatimu. Akulah ia. Yang kau impikan selama ini.” “Kamu…?!? “Ya.., keteguhanmu menjaga diri dari pesta itu adalah cinta. Kesendirianmu mencari makna adalah kesyahduan yang hakiki, ia tak pernah mati.” Suaranya kian meredup, seiring pijakannya yang kian menjauh. Aku merasa malu. Benarkah aku kokoh akan keberadaanku, terhadap pilihanku. Aku tetap sendiri. Apakah benar aku mampu sendiri? “Jagalah dirimu dan selamatkan jiwaku. Aku akan datang nanti jika waktunya telah tiba,” kini lambaian tangannya yang dapat aku saksikan. Semakin jauh…semakin kecil… dan kemudian hilang.
           Aku sendiri bersama tangisanku, dengan kegelisahanku. “Kenapa kau tinggalkan aku! Membiarkanku sendiri ditengah kegelapan ini. Kamu yang kau pilih. Kembalilah!!” ku teriakan pada angkasa. Namu tak satupun ada yang menjawab. Semua sendiri dengan kelanggengannya. Sunyi…sepi.. senyap..
Udara semakin dingin. Malam telah benar-benar tua. Sementara angin masih sajaterus berbisik dengan alam, ranting, dan pepohonan. Di penghujung malam semuanya terjalin. Kurekam begitu erat dalam ingatanku hingga kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar